Apakah Isi Agama Nelayan Ada yang Plagiat?

Tulisan ini adalah pembahasan lebih lanjut atas tulisan saya di situs www.ridwanmandar.com[1] seri kedua yang berjudul “Apakah Plagiat?”. Tulisan saya tersebut telah ditanggapi[2] penulis buku Agama Nelayan, Bapak Arifuddin Ismail (isi tanggapan dapat dibaca di sini).

Sebelum menjawab, saya akan mengutip beberapa bagian dari presentasi tentang “Plagiarism”[3] oleh Myrta Artaria. Plagiarism adalah “Pemanfaatan atau penggunaan hasil karya orang lain yang diakui sebagai hasil kerja diri sendiri, tanpa memberi pengakuan pada penciptanya yang asli.”

Klasifikasi Plagiarism dapat dibuat tergantung dari berbagai aspek pandang, yaitu:

-       dari segi substansi yang dicuri,

-       dari segi kesengajaan,

-       dari segi volume/proporsi

-       dari pola pencurian, dapat dilakukan kata demi kata, maupun dapat diseling dari berbagai sumber dan dengan kata-kata sendiri (mozaik)

-       ada pula Auto-plagiarism/self-plagiarism (mengutip tulisan sendiri)

Plagiarism kadang disebut Plagiatisme atau Plagiasi, merupakan suatu tindakan pelanggaran akademik yang serius. Baik disengaja atau tidak, plagiarism meliputi tindakan-tindakan sebagai berikut:

  1. Menggunakan kata-kata atau ide (termasuk teori dan opini) yang ditulis oleh orang lain dalam buku, skripsi, thesis, majalah, koran, lagu, acara TV, film, program komputer, surat, email, web page, iklan, dll.
  2. Menggunakan frase unik yang dikatakan oleh seseorang
  3. Menggunakan informasi yang diambil dari interviu, atau email, komunikasi personal, dll.
  4. Menjiplak ilustrasi, foto/gambar, grafik, diagram, lukisan, statistik, atau fakta yang tertera dalam tulisan orang lain.
  5. Menggunakan ide orang lain yang dikomunikasikan melalui media tulisan (email, surat, web page, dll) ataupun percakapan lesan/personal
  6. Membuat parafrase dari tulisan atau ide orang lain (baik yang tertulis maupun lisan), tanpa menyebutkan sumbernya.

Kapan tidak perlu menuliskan sumber referensi?

-       Menuliskan “common knowledge”, observasi yang menggunakan akal, yang diketahui orang banyak, folklor, atau informasi yang umum diketahui oleh orang- orang dalam bidang anda

-       Menceritakan pengalaman sendiri

-       Menceritakan pikiran-pikiran, hasil observasi, dan kesimpulan anda sendiri

-       Menuliskan kesimpulan dari penelitian anda sendiri

-       Menuliskan kumpulan fakta-fakta yang sudah diterima oleh orang banyak

Bagaimana menghindarinya?

-       Dalam mencatat kutipan atau ide-ide,  selalu beri tanda (misalnya beri tanda kutip)

-       Dalam membuat parafrase, jangan sambil membaca teks asli

-       Periksa kembali hasil parafrase anda dengan teks asli, untuk mencocokkan ketepatan interpretasi, dan menghindari persamaan kata-kata atau kalimat

-       Kata-kata unik atau frase yang tidak bisa diubah, diberi tanda kutip

Apakah yang disebut dengan “common knowledge”?

-       Apabila menurut anda informasi itu diketahui oleh semua pembaca

-       Apabila seseorang bisa mendapatkan informasi itu dengan mudah dalam sumber referensi yang mudah didapat

-       Apabila hal tersebut anda jumpai dalam tulisan-tulisan orang lain (sedikitnya lima tulisan), tanpa menyebutkan dari mana sumber referensinya.

Ada Plagiarsm di Buku Agama Nelayan

Lalu bagaimana dengan buku Agama Nelayan? Bila berdasar pada defenisi atau penjelasan tentang plagiarsm di atas (dan semua penjelasan plagiarsm atau plagiat di banyak sumber baik buku maupun informasi di internet), beberapa kalimat dan paragraf dalam buku tersebut adalah bentuk plagiarsm! Hanya saja kadarnya beda-beda, mungkin karena “kesalahan teknis”, “sedikit saja”, “kekurangcermatan”, atau karena “kesengajaan”.

Adapun buku atau pustaka atau referensi yang diplagiat setidaknya adalah:

  1. Roppo Mandar: Pengkajian Budaya Bahari Suku Mandar Sulawesi Selatan karya Muhammad Ridwan Alimuddin, 2001[4]
  2. Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman karya Muhammad Ridwan Alimuddin, diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, 2005
  3. Beberapa Catatan tentang Pembuatan Perahu dan Pelayaran di Daerah Mandar, Sulawesi Selatan karya Horst H. Liebner, MA P3MP – Proyek Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat Pantai, YIIS UNHAS, 1996[5]
  4. Pengetahuan Tradisional Pembuatan Perahu Orang Mandar karya Ahmad Sahur dkk, diterbitkan Lembaga Penelitian UnHas, Ujung Pandang 1991/92)[6]
  5. Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan karya Baharuddin Lopa diterbitkan Penerbit Alumni, Bandung, 1982[7].

Dari pustaka di atas, ada yang dikutip hampir sama dengan teks asli, ada juga yang mirip-mirip atau dimodifikasi, hingga memunculkan dugaan bahwa apa yang “dikopi – paste” diambil dari buku tersebut. Sekedar informasi, dari lebih 70 referensi dalam Daftar Pustaka buku Agama Nelayan, hanya lima pustaka[8] di atas yang khusus membahas kemaritiman Mandar. Ini juga menjadi alasan atau batasan mengapa saya hanya membahas “potensi plagiat” dari buku-buku tersebut.

Berikut pembuktiannya.

Roppo Mandar

Pada halaman 187 buku Agama Nelayan di poin ketiga dituliskan “Bacaan ketika memulai pekerjaan pembuatan roppong …”, isinya persis sama (kecuali tambahan Bismillah, istighfar, syahadat dan shalawat dan satu dua kata serta penyesuaian ejaan) dalam buku Roppo Mandar halaman 43, “Do’a yang dirapal ketika akan memulai pekerjaan roppo yang ditandai dengan pemahatan …”.

Mantra atau do’a tersebut saya peroleh dari informan bernama Mustafa (73), seorang nelayan tua dari Sabang Subik yang lebih dikenal dengan nama Kamaq Occong. Beliau sudah meninggal dunia. Adapun dalam buku Agama Nelayan tak disebutkan dari mana sumbernya, apakah dari wawancara atau dari pustaka lain?

Pada halaman 133 – 134 buku Agama Nelayan, Arifuddin Ismail menuliskan nilai-nilai filosofi pada roppong, “Masyarakat nelayan Mandar …”, di mana pada bagian berikutnya Arifuddin Ismail menuliskan tiga poin yaitu a, b, dan c.

Berdasar kesamaan kata, kalimat dan susunan, kuat dugaan poin-poin tersebut diambil dari tulisan Roppo Mandar, halaman 40, “Berikut ini beberapa makna filosofi yang terdapat di beberapa bagian roppo …”.

Dalam tulisan saya tersebut saya menuliskan 12 nilai filosofi, tapi Arifuddin Ismail hanya mengambil empat poin (poin keempat tidak menggunakan “d”, tapi menjadi paragraf biasa di bawah poin “c”), yaitu poin a, c, d, dan g dalam buku Roppo Mandar.

Sama sekali tak ada penjelasan atau catatan kaki mengenai sumber nilai-nilai filosofi tersebut dalam buku Agama Nelayan!

Orang Mandar Orang Laut

Buka halaman 92 – 95 buku Agama Nelayan lalu bandingkan halaman 105 – 109 buku Orang Mandar Orang Laut. Deskripsinya persis sama!

Memang pada halaman-halaman di buku Agama Nelayan tersebut sudah ada penjelasan, misalnya di halaman 92 “Dalam buku berjudul Orang Mandar Orang Laut yang ditulis Muhammad Ridwan Alimuddin …” Namun isi paragraf tersebut di atas “tidak baku cocok” dengan paragraf-paragraf berikutnya, yang merupakan kopi – paste (dengan sedikit perubahan) atas tulisan saya di buku Orang Mandar Orang Laut. Idealnya sih setelah paragraf di atas, ada penjelasan atau kalimat, misalnya, “Berikut adalah deskripsi suasana penangkapan ikan di rumpon sebagaimana yang tertulis dalam …”.

Ada catatan kaki ke-14 di paragraf kedua di halaman 93; catatan kaki ke-15 paragraf pertama halaman 95; dan catatan kaki ke-16 baris paling atas di halaman 97. Yang mana kalimat atau paragraf dari halaman 93 sampai 95 dalam buku Agama Nelayan bersumber dari: halaman 106 – 109 buku Orang Mandar Orang Laut (dan atau Roppo Mandar halaman 67 – 68).

Meski demikian, catatan kaki 14, 15, dan 16 tersebut, yang semuanya tertulis ibid, tidak jelas ibid-nya merujuk ke mana, sebab catatan kaki sebelumnya yang jelas memuat nama pengarang dan judul pustakanya adalah catatan kaki ke-13, yaitu “H. Ahmad Sahur …, dst”. Jika pun itu adalah sebuah kekeliruan, misalnya ibid yang dimaksud adalah catatan kaki ke-12, tidak pas juga. Sebab catatan kaki ke-12 merujuk pada tulisan Roppo Mandar yang isinya (tidak termasuk daftar pustaka dan lampiran-lampiran) hanya sampai pada halaman 97 alias tak lebih dari 100 halaman.

Dugaan saya, ada “kelupaan” menuliskan catatan kaki yang menuliskan sumber rujukan berasal dari buku Orang Mandar Orang Laut.[9]

Kalimat atau paragraf setelah catatan kaki ke-14 juga bersumber dari buku Orang Mandar Orang Laut, yang ada pada halaman 106 – 109. Sedang dalam buku Agama Nelayan, katanya itu merujuk pada halaman 108 – 109.

Berikutnya, masih di halaman 95 plus halaman 97 buku Agama Nelayan, tentang perahu. Paragraf kedua halaman 95 sampai paragraf pertama halaman 97 juga berasal dari tulisan saya, Roppo Mandar, tepatnya pada halaman 61 – 62. Dengan kata lain, ada kekeliruan: pada catatan kaki ke-16 merujuk pada buku Orang Mandar Orang Laut halaman 29 – 31 yang mana deskripsi di halaman 95 – 97 buku Agama Nelayan tidak sesuai dengan halaman dimaksud. Sebab di halaman 29 – 32 buku Orang Mandar Orang Laut membahas khusus tentang sandeq, bukan jenis kapal atau perahu di Mandar.

Cocoknya sih pada Roppo Mandar halaman 61 – 62.

Meski kalimat akhir di paragraf pertama halaman 95 buku Agama Nelayan juga bersumber dari buku Orang Mandar Orang Laut (paragraf akhir halaman 109); dan defenisi “kappal” pada halaman 97 di buku Agama Nelayan bersumber dari Roppo Mandar (halaman 63), tidak ada penjelasan bahwa itu dari tulisan saya tersebut!

Apakah kekeliruan atau kesengajaan?

Beberapa Catatan tentang Pembuatan Perahu dan Pelayaran di Daerah Mandar, Sulawesi Selatan; dan Pengetahuan Tradisional Pembuatan Perahu Orang Mandar

Pada halaman 141 – 142 buku Agama Nelayan, yaitu tentang pemali, apa yang dikemukakan oleh Arifuddin Ismail pada poin 1 – 6 “kebetulan mirip” dengan apa yang dituliskan oleh Horst dalam karyanya pada halaman 21. Sedang poin 7 kemungkinan disadur dari paragraf ketiga halaman 22 karya Horst.

Memang ada kemungkinan informasi yang sama juga disampaikan oleh nelayan Mandar yang menjadi informan penulis buku Agama Nelayan. Pertanyaannya, koq urutannya sama persis?

Pada halaman 186 – 187 buku Agama Nelayan dituliskan bacaan ketika hendak menebang kayu (nomor 1) dan ketika membuat posiq lopi (nomor 2). Masalah untuk hal ini sama dengan yang terjadi pada Roppo Mandar yang dijelaskan sebelumnya (mantra nomor 3). Bahwa sumber mantra atau doa tidak disebutkan, apakah itu dari informan yang didapatkan langsung oleh penulis buku Agama Nelayan ataukah dari referensi lain?

Bila berdasar pada tulisan Horst H Liebner Beberapa Catatan tentang Pembuatan Perahu dan Pelayaran di Daerah Mandar, Sulawesi Selatan halaman 8, besar kemungkinan do’a nomor (1) di halaman 186 buku Agama Nelayan berasal dari karya Horst tersebut.

Sedangkan do’a nomor (2) sepertinya bersumber dari halaman 15 – 16 tulisan antropolog berkebangsaan Jerman tersebut. Saya tidak tahu apakah Arifuddin Ismail mengutip langsung dari tulisan Ahmad Sahur ataukah dari Horst H Liebner. Dalam tulisan Horst tersebut, selain merujuk pada Ahmad Sahur juga merujuk pada karya Usman Pelly.[10]

Dan penting untuk dicatat, mantra atau do’a (1) dan (2) tersebut tidaklah berbahasa Mandar, melainkan berbahasa Bugis. Sebagaimana yang dituliskan Horst di catatan kaki ke-19 halaman 8; ke-50 di halaman 16, “Mantera yang dicatat Sahur ini bukan Bahasa Mandar, melainkan Bahasa Bugis …

Artinya apa, ada pertanyaan penting di sini. Terlepas mantra atau do’a tersebut juga dipraktekan oleh orang Mandar, namun dalam kasus ini, mantra atau do’a yang ditulis di buku Agama Nelayan, ada kemungkinan, bersumber dari orang Bugis – Konjo (Makassar). Misalnya Ahmad Sahur mengutip mantra ini dari karya Usman Pelly untuk kemudian dialihbahasakan ke dalam Bahasa Mandar. Untuk kepastiannya, harus ada pelacakan atas tulisan Ahmad Sahur.

Yang jelas, kalimat “Bacaan tradisional di atas yang populer di kalangan nelayan Pambusuang, dan nelayan Mandar pada umumnya, merupakan out come proses transformasi Islam ke dalam tradisi lokal nelayan. …” (halaman 189 – 190 buku Agama Nelayan) menjadi bias sebab ternyata ada dua mantra atau do’a yang informasinya BELUM TENTU dituturkan orang Pambusuang!

Menarik juga diperhatikan, di mana sebelumnya pada halaman 151 penulis Agama Nelayan mendeskripsikan upacara peluncuran perahu (khususnya “mapposiq”) lengkap dengan do’anya (Nabi Sulaiman mekke’de diolo …, dst). Pertanyaannya, apakah deskripsi tersebut betul dilakoni oleh orang Pambusuang? Ataukah Arifuddin Ismail mengambilnya dari karya Ahmad Sahur atau Horst H Liebner?[11]

Pernyataan serupa saya sampaikan untuk halaman sebelumnya di Agama Nelayan, yaitu dari 146 – 150, yaitu pendeskripsian Ritual Masa Konstruksi yang menjadi bagian dari sub bab Jenis-jenis Ritual Nelayan Pambusuang – Mandar. Yang mana di paragraf pembukanya tertulis, “Ritual merupakan hal yang esensial bagi nelayan Pambusuang, …”. Adanya kata “Pambusuang – Mandar” patut dicermati; bahwa siapa pun yang membaca bagian tersebut pasti beranggapan bahwa ritual tersebut terjadi dan dilakukan oleh nelayan Pambusuang.

Dengan kata lain, praktek ritual yang dijelaskan di halaman 146 – 150 tersebut BELUM TENTU TERJADI DI PAMBUSUANG ATAU DILAKUKAN OLEH ORANG PAMBUSUANG.

Bagian ini menjadi persoalan sebab: 1) penulis tidak memberi catatan kaki penjelasan, sebagaimana dalam tulisan Horst yang menjelaskan bahwa informasi ritual serta mantra-mantranya dia dapatkan dalam hasil penelitian Ahmad Sahur atau Horst H Liebner; 2) Catatan kaki nomor 30 di halaman 150 buku Agama Nelayan tidaklah memadai. Sebab tidak jelas di bagian mana kutipan yang berasal dari tulisan Horst diambil. Soalnya, jika dicermati, tulisan Horst sudah mulai ada pada halaman 148 (tapi diubah sedikit redaksinya), yaitu “Ketika tiba di lokasi penebangan pohon …” sampai mantra saat akan menebang kayu (bandingkan dengan deskripsi Horst di halaman 8). Tapi paragraf atau kalimat setelah mantra di halaman 149 buku Agama Nelayan tidak ada di halaman 8 tulisan Horst. Artinya, jika memang ini masalah teknis, pengutipan tersebut agak kacau.

Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan

Bandingkan halaman 88 – 91 buku Agama Nelayan dengan halaman 56 – 61 di buku Baharuddin Lopa. Memang ada catatan kaki ke-11 di halaman 91 yang menuliskan secara lengkap nama dan karangan pendekar hukum kelahiran Pambusuang tersebut, tapi itu sama sekali tidak ada hubungan antara halaman 34 di buku Baharuddin Lopa dengan apa yang dikemukakan di halaman 90 – 91. Sebab yang dibahas di halaman 34 buku Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan adalah sejarah pelayaran orang Sulawesi Selatan, BUKAN tentang pengetahuan kenelayanan orang Mandar. Kalau itu yang dimaksud, itu berada di halaman 56 – 61.

Ada juga kemungkinan penulis Agama Nelayan malah tidak mengutip langsung dari buku Baharuddin Lopa, tapi dari tulisan saya, Roppo Mandar, tepatnya halaman 21 – 23[12]. Tapi sama sekali tak ada keterangan akan hal itu di buku Agama Nelayan.

Untuk bagian ini, Arifuddin Ismail tidak mengutip sama persis sebagaimana yang dikemukakan di atas, tapi ada beberapa perubahan. Misalnya menyelipkan beberapa hasil wawancara dan mengubah radius terbang burung “jagong”. Di buku karya Baharuddin Lopa (yang juga saya kutip di Roppo Mandar), tertulis 100 mil, sedang di dalam buku Agama Nelayan tertulis 40 km.

Pada halaman 137 – 140 Agama Nelayan membahas bentuk-bentuk bahaya di laut. Bandingkan halaman tersebut dengan halaman 65 – 70 buku Hukum Laut-nya Baharuddin Lopa, tulisan Horst H Liebner 18 – 20, dan atau halaman 24 – 26 buku Roppo Mandar.

Dalam buku Agama Nelayan di halaman 137 – 140 sama sekali tidak menulis referensi, baik karya Baharuddin Lopa, Horst ataupun yang saya tulis. Sekilas memang tidak apa-apa tidak menuliskannya sebab informasi tentang bahaya-bahaya di laut tersebut “sepertinya berasal” dari wawancara (lihat catatan kaki nomor 23, 24, 25 dan 26).

Yang menjadi pertanyaan, misalnya jawaban dari Faisal (catatan kaki ke-23 di halaman 137) “sama persis” (ada penyesuaian sedikit supaya itu seolah-olah bagai sebuah jawaban) kalimat (terjemahannya) dengan yang ada, misalnya di dalam buku Baharuddin Lopa, halaman 66 yaitu tiga poin cara menanggulangi dan menghilangkan hantu laut.



[1] ridwanmandar.com/2013/04/15/tinjauan-atas-buku-agama-nelayan-02/. Tulisan tersebut saya lampirkan dalam makalah ini.

[2] Masuk email sandeqlopi@gmail.com & sandeqlopi@yahoo.com pada 26 Juli 2013

[3] Myrta Artaria, “Plagirsm”, Universitas Airlangga. Presentasi dapat dilihat atau diunduh dari http://web.unair.ac.id/admin/file/f_34197_PlagiarismBnW.pdf. Presentasi tersebut menggunakan referensi: Slides “PENGACUAN dan BIBLIOGRAFI dalam BUKU AJAR” oleh Prof. Ali Saukah, Universitas Negeri Malang; Slides “ETIKA TERBITAN BERKALA ILMIAH” Oleh H. M. Nur Kholis Setiawan, Fakultas Syari’ah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Handout Mata Kuliah “Teknik Penulisan Ilmiah”, Dept. Antropologi, FISIP, UA, oleh Nurcahyo Tri Arianto; Handout Mata Kuliah “Teknik Penulisan Ilmiah”, Dept. Antropologi, FISIP, UA, oleh Myrtati Dyah Artaria; Paraphrasing Quotations. Oleh Simran Khurana. http://quotations.about.com/cs/quotations101/a/aa042603.htm; Quoting, Paraphrasing, and Summarizing. http://owl.english.purdue.edu/owl/resource/563/01/; Slides “What is plagiarism?” By Valenza, Joyce; Slides “Citing your sources – avoiding plagiarism” By Henry Langseth. Agder; Slides “Plagiarism Pigsty Don’t get stuck in the mud!” By Linda McSweeney. Spaulding High School.

[4] Tulisan Roppo Mandar adalah hasil penelitian saya mengenai rumpon Mandar. Hanya berupa naskah cetak yang disebar terbatas. Salah satunya ke Bapak Arifuddin Ismail, suatu waktu pada tahun 2001. Riset dan penulisan tentang rumpon Mandar saya kembangkan hingga mencakup kebudayaan maritim Mandar. Hasil penelitian tersebut saya tuliskan dan menjadi sebuah naskah buku setebal 600 halaman berjudul Laut, Ikan dan Tradisi: Kebudayaan Bahari Mandar (2003). Naskah tersebut saya kirimkan (tahun 2004) ke salah satu penerbit Gramedia, yaitu Kepustakaan Populer Gramedia, yang belakangan menjadi buku Orang Mandar Orang Laut (2005).

[5] Dalam daftar pustaka Agama Nelayan, nama Horst H Liebner dituliskan Horst H Weibner dan tahun penerbitannya 1998, sedang tulisan yang saya miliki yang diberikan langsung oleh Horst H Liebner (bukan Weibner) tahunnya 1996

[6] Dalam Daftar Pustaka Agama Nelayan karya Ahmad Sahur tertulis Sistem Pembuatan Perahu Mandar diterbitkan Universitas Hasanuddin, Makassar tahun 1978. Pelacakan di internet atas karya-karya Ahmad Sahur, yang cocok adalah judul dan tahun yang digunakan Horst H Liebner. Hanya pustaka karya Ahmad Sahur ini yang saya tidak pernah lihat langsung dalam pembuatan makalah ini.

[7] Baik dalam catatan kaki maupun dalam Daftar Pustaka Agama Nelayan, karya Baharuddin Lopa salah judul, ditulis Hukum Laut: Pelajaran dan Penerapan. Seharusnya Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan.

[8] Buku Orang Mandar Orang Laut: Kebudayaan Bahari Mandar Mengarungi Gelombang Perubahan Zaman karya Muhammad Ridwan Alimuddin, Kepustakaan Populer Gramedia, 2005 tidak dituliskan dalam Daftar Pustaka, tapi ada di catatan kaki.

[9] Catatan kaki ke-14 buku Agama Nelayan tertulis Ibid., hlm. 10-107. Sepertinya salah tulis jika memang merujuk pada buku Orang Mandar Orang Laut. Seharusnya, hanya halaman 106.

[10] Pelly, U. 1975: Ara dengan perahu Bugisnya, Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang

[11] Lihat atau bandingkan halaman 15 – 16 dalam tulisa Horst H. Liebner

[12] Pembahasan tentang hal ini saya buatkan bab tersendiri di naskah Roppo Mandar, yaitu bab Pengetahuan Pelaut Mandar. Di akhir judul bab tersebut saya cantumkan catatan kaki ke-25 yang isinya, “Isi dari bab ini merupakan penggabungan dari tulisan Lopa (1982) dan Liebner (1995) yang tersebar di beberapa halaman.”

:::::::::

Makalah ini saya bagikan di acara diskusi polemik mengenai dugaan plagiat dalam buku Agama Nelayan di kediaman Prof. Rahman Halim (Makassar) yang menghadirkan penulis buku Agama Nelayan, pada 4 Agustus 2013 sekitar pukul 20.00 wita.

Halaman-halaman lima buku di atas (kecuali karya Ahmad Sahur) yang berkaitan dengan masalah dugaan plagiat dapat didownload di sini.

 

One thought on “Apakah Isi Agama Nelayan Ada yang Plagiat?

  1. Pingback: Bukan Kampanye Hitam Pak Gub! | Mandar

Comments are closed.