Tentang Video Klip Lagu Mandar

Kurang lebih lima tahun lalu, tepatnya 5 Juni 2007, tulisan saya yang berjudul “Setan Bergincu Semarakkan Industri Musik Lokal” dimuat www.panyingkul.com. Tulisan yang masih “up to date” hingga saat ini. Harus diakui, telah ada beberapa perubahan akan fenomena yang saya bahas di tulisan tersebut.

Sebagai “stakeholder” dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya di Mandar, saya pribadi kadang memberi masukan, baik lewat tulisan (salah satunya tulisan tersebut di atas dan di sini) maupun diskusi pribadi dengan beberapa teman klip-klip lagu Mandar yang dikerja seadanya. Menurut saya, banyak lagu yang sebenarnya bagus baik lirik maupun ketika didengar (saja), saat didengar bersama klipnya (atau saat klipnya ada), lagu tersebut menjadi turun kelasnya. Salah satu penyebab, klip yang norak. Atau isinya seadanya. Kasanya, asal shooting saja.

Agar tak berkesan saya bisanya mengkritik saja, saya ingin terlibat dalam kegiatan pembuatan video klip lagu-lagu Mandar. Pengalaman pertama beberapa tahun lalu. Kalau tidak salah tahun 2007 atau 2008. Saat itu saya diajak saudara Safar untuk menjadi kameraman pengganti album lagu Mandar yang sedang dia garap. Kameraman yang rencananya akan terlibat belakangan berhalangan.

Saya lupa nama albumnya, yang jelas, di album tersebut ada Tommy J. Pisa ikut menyanyikan lagu Mandar. Untuk klip lagu Tommi J. Pisa, bukan saya yang buat. Beberapa klip yang lain, saya yang shooting. Itu adalah pengalaman pertama saya terlibat dalam pembuatan klip lagu Mandar. Hanya saja saya belum begitu puas, sebab saya terlibat sebagai kameraman saja. Pematangan konsep hingga editing tak terlibat.

Beberapa tahun kemudian, akhir tahun 2010, saya diminta salah satu group band dari Majene, Anunita, untuk membuatkan klip beberapa lagu mereka. Saya sambut antusias. Sebab, saya diberikan kewenangan penuh untuk membuat konsep awal, sebagai kameraman, sutradara, hingga editing. Jadi sebagai sebuah karya bisa saya pertanggungjawabkan.

Alasan lain, klip ini beraliran pop dengan lirik berbahasa Indonesia, dan formatnya band. Jadi ada perbedaan dengan klip lagu-lagu Mandar yang hampir semuanya penyanyi solo. Kadang ada duet. Video klip Anunita dapat disaksikan di sini dan di sini. Yang belum selesai ada di sini. Yang masih harus saya selesaikan dua lagu lagi. Ini adalah proyek jangka panjang, jadi konsep bisa lebih matang dibuat.

Konsep

Konsep amat penting dalam pengerjaan sebuah klip lagu. Adapun konsep itu harus didasari pada kreativitas. Kreativitas sedikit banyak dipengaruhi oleh sumberdaya yang ada. Sumberdaya bisa berdasar pada alat, manusia, dana, dan waktu.

Di mata saya, ada beberapa penyebab mengapa klip yang dibuat ‘filmmaker’ orang Mandar kadang apa adanya. Penyebab tersebut antara lain adalah waktu.

Berdasar informasi yang disampaikan beberapa teman yang lama bergulat dalam pembuatan video klip Mandar, mereka harus menyelesaikan video klip (8-12 video) dalam waktu relatif singkat (1-2 bulan). Rata-rata bayarannya Rp 5 – 7 juta.

Mengerjakan banyak klip dalam waktu sempit bisa menyebabkan kreativitas buntu. Artinya, untuk melahirkan konsep butuh pemikiran tersendiri, masukan, dan inspirasi dari beragam sumber. Hal itu (konsep) akan ‘prematur’ bila dilahirkan dalam waktu sempit. Maka, itulah sebab ada banyak klip yang dibuat seadanya. Dishooting saja.

Ya, memang itu sudah memenuhi standar sebagai sebuah video klip, tapi dari segi estetika masih perlu diperbaiki.

Faktor lain adalah bayaran. Bila dirata-ratakan per klip, itu nilainya hanya Rp 500 ribu (hampir sama dengan bayaran model ‘terkenal’ dalam video klip). Jadi, sebenarnya tak sebanding dengan proses kerja. Maka, sangat jarang pekerja klip mau menerima klip bila satu saja, sebab bayarannya rendah. Jadi lebih baik diterima semua (10 klip) agar total bayarannya lebih tinggi. Lagian, satu model mungkin bisa dipakai untuk beberapa lagu dengan bayaran sama.

Pihak produser juga berpikir praktis. Buat apa membuat video klip mahal-mahal, yang penting jadi albumnya. Nah, ini juga yang bisa diperdebatkan. Apakah masyarakat yang menyukai klip demikian (apa adanya, norak, angle shooting yang membuat pusing) atau ‘filmmaker’ yang menyodorkan gaya demikian?

Beberapa tahun terakhir, beberapa teman yang menyadari masih kurangnya kualitas klip yang dibuat putra-putra Mandar, mulai terlibat secara aktif. Yaitu membuat klip dengan rasa estetis lebih baik. Beberapa diantaranya Zulkifli Siddiq bersama Dahri Dahlan (salah satu album Pandara Record), Irwansyah (yang membuat klip lagu Nurdin KDI dan klip lagu d’cember), dan saya sendiri.

Diakui atau tidak, video-video klip yang dibuat belakangan di Sulawesi Barat, khususnya Polewali Mandar, mengikuti jejak membuat video klip dengan menggunakan kamera DSLR. Sebelumnya, klip-klip lagu Mandar semuanya dibuat dengan kamera video sejenis handycam. Dengan kata lain, dinamika pembuatan video klip di Mandar mengikuti perkembangan teknologi atau apa yang telah terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Makassar atau dunia pada umumnya. Tentang pembuatan film dengan DSLR dapat dibaca di sini.

Ramona dan Bulan

November 2011, saya dihubungi Monalisa. Dia meminta saya yang membuatkan video klip lagu yang didalamnya dia sebagai model. Judul lagunya “Ramona”. Lagu tersebut dinyanyikan oleh Emenk. Monalisa juga menyertakan permintaan saya juga membuatkan video klip yang dinyanyikan, Iif Suaib. Lagunya berjudul “Bulan”.

Saat permintaan itu diajukan, saya sedang di Mamuju untuk mengikuti sebuah acara. Juga saya sambut gembira, sebab beda dengan lagu-lagu sebelumnya yang beraliran pop. Yang ini lagu Mandar, lagu yang mendominasi di Sulawesi Barat.

Agar konsep bisa segera saya pikirkan, saya meminta agar file lagu dikirim lewat email. Juga liriknya (yang dikirim lewat SMS). Malamnya, file lagu saya terima. Iramanya akrab di telinga, sebab lirik diinspirasi lagu yang sudah populer: “Zakia” oleh Ahmad Albar untuk lagu “Ramona” dan “Wulan Merindu” oleh Cici Paramida untuk lagu “Bulan”.

Album lagu diproduseri oleh Syamsul Samad, salah satu anggota DPRD Polewali Mandar. Saya akrab dengan dia, sebab masih seusia dan tinggal di Desa Bala, tak jauh dari tempat saya tinggal di Desa Pambusuang.

Sebelum Monalisa dan Iif Suaib meminta kepada saya, sebelumnya mereka sudah bicarakan dengan pihak produser. Syamsul Samad menyambut baik sebab dia juga mengharapkan ke depan klip-klip karya anak Mandar bisa lebih baik.

Dalam beberapa pembicaraan mengenai produksi album lagu Mandar, saya menyampaikan bahwa kalau saya pribadi maksimal bisa mengerjakan dua lagu bila memang waktu yang disiapkan dua bulan untuk satu album. Lebih dari itu saya tidak bisa, kecuali waktunya lebih panjang.

Untuk masalah bayaran, saya tidak terlalu mempermasalahkan sebab untuk saat sekarang, memasang harga tinggi untuk klip lagu di Sulawesi Barat belum masanya. Yang penting sekarang adalah membuat karya yang secara estetis sedikit lebih berkualitas. Bila itu sudah memasyarakat dan memang video klip yang dibuat lebih matang berpengaruh pada pemasaran, maka terserah pada pembuat klip. Mau pasang harga tinggi atau tidak.

Kepada produser, saat ini, jangan langsung menyodorkan nilai tinggi. Sebab, sebagian besar dari mereka adalah produser yang sudah lama mengerjakan video klip ber-budget rendah. Jika tiba-tiba menyadari ongkos produksi mahal, tentu mereka akan hubungkan dengan keuntungan yang akan mereka peroleh. Artinya, mereka akan pikir-pikir.

Usul saya kepada produser, buatlah album lagu yang klipnya dikerjakan beberapa orang. Bila 10 lagu, maka yang kerjakan 5 orang. Satu orang 2 klip. Tentang bayaran kan bisa dinegosiasikan. Menurut saya, biaya produksi tidak akan berbeda jauh dengan apa yang dilakukan selama ini.

Nah, dari klip tersebut, baik produser, artis maupun masyarakat modern bisa menilai akan kualitas sebuah karya. Dugaan saya, karya klip akan lebih baik sebab para pembuat memiliki waktu lebih banyak untuk mematangkan konsep. Mereka pun tidak diburu-buru waktu. Faktor lain, akan ada kompetisi untuk membuat karya sebaik mungkin.

Tentang alat yang digunakan, itu relatif. Sebagian besar sudah tersedia di Mandar. Ada yang memiliki sendiri dan ada yang bisa pinjam atau sewa dari pihak lain. Alat yang belum ada, semisal rel, bisa diakali dengan membuatnya. Jadi, yang paling penting adalah pematangan konsep dan proses dalam pembuatan karya.

Kembali tentang klip lagu Ramona dan Bulan. Setibanya di Tinambung, saya bertemu dengan penyanyi dan model lagu. Yang pertama saya kerjakan adalah lagu Ramona. Saya sudah akrab dengan Monalisa, sedang penyanyinya, Emenk, baru kenal.

Lokasi utama pembuatan klip di Pantai Palippis dengan pengambilan gambar dilakukan dua kali. Sekitar 97% isi klip diambil persis di pinggir pantai Palippis. Ada satu klip, saat Emenk berjalan membawa benang, diambil di kebun jawawut (“tarreang”). Adegan tersebut diambil di hari yang sama dengan beberapa adegan di video klip “Bulan”.

Klip “Bulan” diambil beberapa hari kemudian setelah “Ramona”. Penyanyinya, Iif, dan modelnya, Bulan (kebetulan namanya sama dengan judul lagu), sudah saya kenal. Jadi pembuatan konsep juga bisa dibicarakan dengan baik.

Awalnya video klip “Bulan” sepenuhnya diambil di dalam ruangan (adegan penyanyi bermain gitar akustik, lokasi di Gedung Mita). Tapi setelah lihat editing awal agak monoton, visual tambahan diperlukan. Lokasi adegan bersepada di jalan menuju Desa Karama dari jalan trans Sulawesi (kawasan Galetto) dan adegan di kebun jawawut di Palippis.

Dalam pembuatan dua klip di atas, yang memakan waktu kurang lebih satu bulan, saya dibantu oleh Aco Parewalino, yang merupakan kameraman utama untuk video klip lainnya dalam album yang sama. Untuk video klip lagu lain, Aco hanya berperan sebagai kameraman, untuk editing ditangani oleh H. Ridwan dari Anwar Studio (kebetulan sama dengan nama saya). Khusus dua klip yang saya kerjakan, baik kameraman dan editornya saya yang tangani. Ini permintaan saya saat negosiasi.

Sampai tulisan ini saya buat, kabarnya proses penggandaan VCD sedang berlangsung di Jakarta. Sabtu, 5 Mei 2012, saya melihat tulisan dan cuplikan album tersebut di sini yang sumber video klipnya dari sini.

Di situ putra-mandar.web.id tersebut di atas ditulis, “Akhirnya video klip Ramona by Emenk Mania telah selesai. Albumnya pun telah rampung, setelah beberapa bulan lalu telah beredar mp3 nya, bahkan banyak yang bertanya penasaran siapa penyanyi lagu baru ini, enak didengar…! Video Klip Ramona ini ternyata digarap oleh Muh. Ridwan Alimuddin (senior ). Menurut admin klipnya sangat fantastis, gambarnya halus sekali, warna cahaya sangat tinggi. (Pake kamera apa nih? ). Ada juga klip Situ’dangan by Hamid, ini dia lagu India versi Mandar lagi. Dan masih banyak klip lain dalam album ini, jangan ketinggalan kaset Albumnya, dapatkan yg asli..!! Berikut 2 klip preview Album Ramona dari Marwah Record.”

Melihat video klip di cuplikan (bukan “priview” tapi “preview”) tersebut (khususnya yang saya buat, Ramona) ada perbedaan dengan master file klip yang saya buat atau yang saya serahkan ke Anwar Studio. Yang saya buat menggunakan format ukuran layar 16:9 (widescreen), tanpa teks lirik lagu, dan tanpa logo. Bagi saya, perubahan atau tambahan itu, sedikit banyak mempengaruhi video klip.

Dalam hal ini saya berpendapat, desain logo ataupun tipografi apa yang tampil di video klip dalam album, mempengaruhi estetika video klip. Demikian juga desain album, baik sampul (wadah VCD) maupun grafis sebelum video klip ditampilkan. Dengan kata lain, hal-hal tersebut saya tidak terlibat, jadi tidak bisa saya pertanggungjawabkan.

Untuk video klip “Ramona” dan “Bulan” yang bisa saya pertanggungjawabkan secara penuh, dapat disaksikan di sini dan di sini. Di video tersebut dapat disaksikan kualitas film sesuai aslinya, tanpa ada tambahan apa-apa dan dengan format layar yang juga layar lebar (tak ada pemotongan di sisi kiri dan kanan).

Semoga ke depan karya video klip yang dilahirkan putra-putra Mandar semakin lebih baik.