Pelantikan Raja di Mandar: Tahapan (01)

Ada banyak upacara tradisional di Mandar, yang bisa disaksikan setiap saat. Misalnya “akekaq” (akikah), “mappadaiq toyang” (bayi naik ayunan pertama kali), “kuliwa” (selamatan), “mappalikka” (pernikahan), dan upacara-upacara yang berkaitan dengan kematian. Tapi ada satu upacara yang pelaksanaannya amat jarang terjadi, yaitu upacara pelantikan maraqdia (raja).

Sejak terbentuk kerajaan-kerajaan di Pitu Baqbana Binanga (sekitar 400 tahun), upacara pelantikan raja hanya berlangsung rata-rata 50 kali. Setidaknya 55 kali untuk Kerajaan Balanipa.

Dalam bahasa Mandar, raja disebut “maraqdia”, tapi tidak selalu berarti seorang “maraqdia” adalah seorang raja. Khusus di Kerajaan Balanipa, raja disebut “Arajang”.

Saat ini “maraqdia” hanya sebuah simbol kebudayaan atas sebuah wilayah yang dulunya dikenal sebagai sebuah kerajaan. Dalam hal ini, untuk Pitu Baqbana Binangan terdiri dari tujuh kerajaan: Balanipa, Sendana, Pamboang, Banggae, Tappalang, Mamuju, dan Binuang.

Dalam kegiatan sehari-hari di masyarakat, peran “maraqdia” hanya tampak dalam kegiatan-kegiatan adat, seperti upacara “pelattigiang” (pemberian daun pacar) dalam acara pernikahan. Sebagai seorang pemimpin, layaknya seorang raja, hampir tak ada lagi sebab digantikan oleh sistem pemerintahan modern. Dengan kata lain, beberapa tahun setelah Indonesia merdeka, sistem kerajaan dihapus untuk kemudian dilebur ke dalam pemerintahan republik.

Yang membuat upacara pelantikan raja jarang terjadi, selain faktor dihapusnya sistem kerajaan di Indonesia, dalam banyak kasus, jabatan “maraqdia” adalah jabatan seumur hidup. Memang ada beberapa kejadian “maraqdia” dilengserkan oleh kaum adat, tapi tidak seberapa, misalnya Daeng Rioso. Atau, mantan “maraqdia” menjabat lagi sebagai “maraqdia”, sebagaimana kasus Mannawari (atau Mandawari). Jadi normalnya, upacara baru akan berlangsung bila pejabat “maraqdia” mangkat.

Dalam tulisan ini, tata cara pelantikan raja berdasar pada dua kasus, yaitu pelantikan raja ke-55 Kerajaan Balanipa, yang saya saksikan pada 23 Mei 2010 lalu di Tinambung dan pelantikan raja Kerajaan Pamboang berdasar tulisan Syaiful Sinrang dalam buku Mandar Sekilas Lintas III.

Tahapan Pelantikan

Pelantikan atau pemahkotaan disebut “pappisokkoang” dalam bahasa Mandar Balanipa atau “pappatadaiyyang” dalam bahasa Mandar Pamboang.

Proses pelantikan raja terdiri dari beberapa tahap.

Tahap pertama pembakaran obor di atas panggung pelantikan, di empat sudutnya, menyimbolkan negeri pembentuk kerajaan. Untuk Kerajaan Balanipa, empat negeri tersebut adalah Napo, Samasundu, Mosso dan Todang. Pembakaran diwakili oleh masing-masing “Tomawuweng” negeri tersebut.

Tahap kedua, pembakaran obor-obor kecil, yang terdiri dari sepuluh obor yang menyimbolkan “sappulo sokkoq”. Obor kecil ini letaknya di atas baruga tempat kaum hadat duduk berkumpul bersama calon “maraqdia”. Kemudian diikuti pembakaran obor “undung” atau dupa kesepakatan yang juga terdapat di atas baruga.

Tahap berikutnya, pemasangan mahkota berupa “sokkoq biring” (terbuat dari serat alam yang dihiasi emas) oleh Pappuangan Napo Saleko. Pemahkotaan dilakukan sambil duduk. Sebelum mahkota dipasang ke atas kepala calon “maraqdia”, terlebih dahulu mahkota tersebut didupai.

Setelah itu, pemasangan keris ke pinggang “maraqdia” yang disebut “pappasatippoi”, dilakukan oleh Pappuangan Mosso. Sebelum keris diselipkan ke pinggang, keris tersebut dibuat mengelilingi “maraqdia” sebanyak tiga kali.

Tahap kelima adalah “assitalliang”, yaitu pengucapan sumpah di bawah payung kerajaan. Payung kerajaan terletak di atas panggung kecil, di depan baruga yang mana sebelumnya di empat sisi panggung “Appeq Banua Kayyang” membakar obor.

Pelantikan dilakukan oleh Pappuangan Limboro dengan Paqbicara Kaiyyang sebagai saksinya. Mereka bertiga bersama-sama di atas panggung, di bawah payung kerajaan dengan tangan kanan memegang gagang payung.

Saat pengucapan sumpah, kaki kanan “maraqdia” yang dilantik berada di atas kepala kerbau (yang dipotong sehari sebelum acara pelantikan) yang dilapisi kain kuning.

Pengucapan sumpah dilakukan antara “maraqdia” yang dilantik dengan Pappuangang Limboro, laksana orang yang berkomunikasi. Kalimat pertama diutarakan oleh raja kemudian dijawab oleh Pappuangang Limboro, yaitu, “Mallewu parri’di’ mo’o?” // “Mallewu parri’dima’” // “Lappar-lapparrumo?” // “Odiadaq odibiasa” // “Buttu-buttu’umo?” // “Odiadaq odibiasa” // “Sasi’ sasi’umo?” // “Odiadaq odibiasa” // “Tau tau’umo?” // “Odiadaq odibiasa” // “Ayu ayumo’o?” // “Oodiadaq odibiasa” // “Rarumma’ nabuttammo’o?” // “Oiadaq odibiasa”.

Percakapan di atas berisi pertanyaan oleh sang raja dan jawaban perwakilan kaum hadat. Raja bertanya, apakah kalian sudah sepakat? Dijawab, kami sudah sepakat (kesepakatan begitu bulat dengan menggunakan bahasa simbol ujung penumbuk “malewu parri’di’). Lalu bertanya lagi, “Apakah wilayah kerajaan saya yang bertanggung jawab?” (disimbolkan dengan tanah datar, perbukitan, laut, hutan, dan rakyatnya). Kemudian dijawab, “Seperti aturan yang diwariskan leluhur kita” (“odiadaq odibiasa”).

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>