Satuan Ukur Ala Mandar

Kadang, pendatang atau orang Mandar yang masih muda, bingung ketika menanyakan kedalaman laut pada seorang nelayan, unit ukuran yang terucap dalam jawaban yang diterima bukan meter, tapi “dappa”.Tigapuluh meter agak mudah dibayangkan, tapi “talluppulo dappa” bisa nggak?

Di daerah kita, masih jamak ditemukan penggunaan sistem ukuran tradisional non metrik (kilometer, meter, sentimeter, dll), tapi sistem ukuran kuno atau tradisional. Yang paling umum didengar adalah “dappa”. Sebagai satuan ukuran tradisional, panjangnya tidak akurat bila didasarkan pada satuan metrik. Satu “dappa” dari tubuh saya belum tentu sama satu “dappa” dari orang lain, yang mungkin rentang tangannya jauh lebih panjang.

Agar tak terjadi kebingungan atau ada standardisasi, oleh masyarakat modern, satu “dappa” atau depa dalam bahasa Indonesia (istilah ini banyak ditemukan di komunitas atau suku lain di Nusantara) ditetapkan setara dengan 180 cm atau 1,8 meter. Bahasa Inggrisnya “fathom”.

Defenisi satu “dappa” adalah jarak di antara kedua telapak tangan jika lengannya dibuka (direntangkansejajar). Kalau ukuran tubuh saya, bila dikonversi ke satu meter, “dappa” tadi “dipotong, yakni hanya sampai di ujung lengan saya (atas ketiak). Ini hampir setara dengansatuan “sassusu”, yaitu jarak antara puting susu dengan ujung salah satu telapak tangan (jika putting kanan, maka yang jadi patokan telapak tangan kanan juga) saat direntang.

Satuan ukuran lebih pendek juga ada, yaitu “sallima”:lebarnya tangan dari ujung ibu jari dengan jari telunjuk;“sassiu’ung”: satu siku yaitu panjang tulang lengantermasuk tangan saat digenggam“sappakka”: yaitu jarak antara sudut yang dibentuk ibu jari dan jari telunjuk dengan ujung ibu jari (simbol pistol); dan “sallameq”.

“Sallameq” itu ada dua: “sallameq” saja, yaitu jarak antara ujung ibu jari dengan ujung jari tengah ketika direntangkan, dan “sallameq panjojoq”, yaitu jarak antara ujung ibu jari dengan jari telunjuk. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar ilustrasi.

Unit ukuran-ukuran tradisional di atas umumnya digunakan oleh tukang perahu, tukang rumah, dan petani.Meski sistem metrik juga digunakan, tapi itu untuk hal-hal tertentu saja, misalnya untuk menerjemahkan bila ada orang ‘modern’ tanya berapa panjang, misalnya, perahu atau rumah tersebut, atau membutuhkan akurasi (disesuaikan dengan atap seng, ukuran kaca jendela, danbenda lain yang dibuat pabrik).

Sebagai contoh di kalangan tukang perahu. Untuk menentukan panjangnya papan tambahan tengah (papanlamma atau pallamma), maka belang diukur dengan memakai “dappa”; kemudian ukuran itu dikurangi satu depa agar dapat menghasilkan ukuran yang diperlukan.

Dengan kata lain, untuk hal-hal tertentu, penggunaan sistem ukur tradisional diharuskan, khususnya penentuan posisi bagian-bagian yang berkaitan hal mistik di perahu, seperti jarak antara ujung peloang dengan ujung layar di perahu pakur harus “sassusuan” (satu “susu”).

Meski lebih menjurus pada hal mistik, harus diakui, juga ada unsur praktisnya, sebab “penggarisnya” melekat pada tubuh, khususnya tangan. Tak perlu mencari atau menggunakan alat ukur meter atau penggaris untuk mengukur sesuatu.

Bila dibahasa Mandar-kan, istilahnya “mangussul”, berasal dari kata “ussul”. “Ussul” tidak berarti usul, tetapi sebuah pemaknaan atau penyimbolan dibarengi sebuah pengharapan akan seperti apa yang disimbolkan.Contohnya seperti ini, bila saya ingin mendapat rezeki yang banyak atau terus meningkat, bila keluar rumah, tangan kanan saya menggapai ke atas, ke ujung pintu. Harapannya, supaya rezeki ikut naik.

Contoh “ussul” yang lain, seorang nelayan akan gembira ketika akan menuju perahunya atau ke laut, dia berpapasan dengan wanita hamil atau seseorang yang membawa wadah (jerigen, ember) air. “Ussul-nya”, dia bertemu dengan pembawa rezeki. Itu semacam tanda bahwa ada harapan demikian juga saat menangkap ikan di laut. Untuk pembahasan mengenai “ussul”, akan saya buatkan tulisan tersendiri.

Lalu apa kaitannya dengan sistem ukuran? Alasan para tukang, mengapa untuk hal-hal tertentu ukurannya berdasar satuan ukuran tradisional, sebab satuan ukuran tersebut berdasar pada tubuh. Dengan kata lain, apa yang mereka buat atau karyakan, adalah bagian dari diri mereka. Semacam belahan jiwa.

Maka tak mengherankan, para tukang, baik pembuat perahu maupun rumah, perahu atau rumah yang mereka buat mereka anggap sebagai anak sendiri. Bila perahu tak menghasilkan rezeki yang baik, sering celaka, kadang sang tukang bercermin pada diri mereka sendiri. Apakahada yang tidak beres pada tubuhku?

Itulah sebab, ada etika para tukang di Mandar, bila mereka diminta memperbaiki atau merubah secara besar-besaran karya tukang lain (misalnya memperbaiki perahu), tukang tersebut harus minta ijin dulu ke tukang pembuatnya. Jika diiyakan, baru bisa kerja. Jangan langsung-langsung, sebab bisa saja membuat tukang tersinggung. Jika tersinggung, bila tukangnya tidak menerima, dia bisa mengirim guna-guna. Itu gampangdilakukan, sebab “roh” perahu atau rumah itu dia yang simpan (biasanya kayu kecil yang berasal dari pahatan pertama ketika perahu atau rumah dibuat).

Ada juga sistem ukuran yang jarang dipakai, sebabdigunakan pada hal-hal tertentu, terkesan jorok, dan produk yang menggunakan sistem ukuran ini sudah jarang dibuat. Yaitu pembuatan alat bantu penangkapan ikan, “roppo” atau “roppong” (rumpon, bukan sampah).

Beberapa dukun yang membantu “membaca-baca” (memberi mantra) dalam pembuatan rumpon, kadang membuat simbol kesuburan di rumpon yang mereka buat, yang bahannya dari bambu “marepeq”. Ada simbol penis dan vagina wanita. Jarak antar kedua simbol itu tidak menggunakan satuan ukuran “dappa”, “lima”,“sassi’ung”, “sassusu”, “sallame”, dan “sappakka”, tapimenggunakan satuan ukuran “sallaso”, yaitu panjang penis (sang dukun) ketika ereksi.

Ussul-nya, kan kalau mau mempunyai anak atau ketika sedang bersetubuh penis harus ereksi, agar bisa keluar sperma. Bila tidak, kan tidak mungkin hamil,” demikian jawaban (almarhum) Kamaq Occong, salah satu guru saya dalam mempelajari ilmu-ilmu mistik nelayan Mandar.

Untuk teknik pengukuran senjata (badik, keris) akan saya bahas dalam tulisan khusus tentang hal itu.

One thought on “Satuan Ukur Ala Mandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>