Resensi I Manusia Bugis: Mandar di Manusia Bugis

Judul: Manusia Bugis, Penulis: Christian Pelras, Penerbit: Nalar, Jakarta : Februari 2006 : xxxxiv + 450 hlm.

Nenek moyang berbagai kelompok etnik di Sulawesi Selatan tampaknya menjalin hubungan dekat, karena bahasa Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Ma’senrempulu terkesan mengalami fase perkembagan yang sama pada kurun waktu tertentu. Kemudian masing-masing kelompok saling memisahkan diri. Leluhur orang Makassar mengarah ke selatan, leluhur orang Mandar ke daerah utara sepanjang pesisir barat, leluhur orang Bugis ke dataran rendah bagian tengah, leluhur orang Toraja menuju pegunungan di bagian utara dan leluhur orang Pitu Ulunna Salu’ mengarah ke hulu sungai sepanjang Mamasa hingga ke daerah yang kini mereka diami” (hal. 44).

Manusia Bugis (Nalar, 2006) merupakan buku terbaik tentang Bugis yang pernah ditulis, baik oleh para orientalis (orang barat yang meneliti kebudayaan timur) maupun ilmuwan pribumi. Penulisannya lebih obyektif, mudah dipahami, lebih lengkap, dan mencakup kurun waktu yang lama, sebelum zaman logam hingga fenomena seorang putera Bugis menjadi orang nomor dua di Indonesia, di tahun 2005 lalu.

Penulisnya seorang antropolog kelahiran Perancis, Christian Pelras yang lahir pada 17 Agustus 1934. Tahun 1960-1961 menerima beasiswa dari Indonesia dan menjalani studi tentang etnologi, sosiologi, dan sejarah di daerah-daerah Indonesia. Di Indonesia pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial di Ujung Pandang tahun 1979 – 1980. Ia juga pernah menjadi peneliti dan dosen tamu di universitas- universitas dan institut-institut bergengsi di Australia, Singapura, Malaysia, Belanda dan Portugal. Oleh masyarakat Sinjai, Pelras diberi nama La Massarassa Daeng Palippu.

Jika orang bukan Mandar membaca sekilas atau semua halaman buku ini, mungkin akan beranggapan Pelras mengabaikan Mandar. Misalnya, pada bab pertama (Pendahuluan), hanya etnik Mandar yang tidak dibuatkan bagian khusus di dalam sub-bab Suku Bugis dan Suku Tetangganya di Sulawesi Selatan padahal Makassar, Toraja, dan Bajau ada.

Saat saya bertanya mengapa di dalam buku The Bugis (Manusia Bugis adalah terjemahan sekaligus perbaikan The Bugis yang terbit pada tahun 1996) tidak ada bagian khusus yang membahas hubungan Bugis dengan Mandar. Jawaban Pelras, “Itu adalah kesalahan saya”. Lalu ketika buku Manusia Bugis yang terbit satu dekade setelah The Bugis, Bugis dan Mandar tetap tidak ada.

Untuk ketidakadaan di atas, saya tidak akan menganggap si penulis mengindahkan budaya Mandar. Mandar di mata Pelras tidak pernah terabaikan. Dia begitu mengangumi kebudayaan bahari Mandar sehingga atas dukungannyalah sandeq asli menjadi “aktor utama” pameran maritim di Perancis beberapa tahun lalu dan juga menjadi pembimbing mahasiswa Perancis, Bruno Quatrefages, yang meneliti perahu sandeq dan lambo Mandar selama beberapa tahun hingga melayarkan sandeq ke Thailand bersama pelaut-pelaut Mandar.

Lalu pada tahun 2002, Pelras mengeluarkan komentar yang mengagetkan banyak orang: “Orang Bugis sebenarnya adalah pedagang. Laut dan kapal hanyalah media atau sarana yang digunakan untuk memperlancar aktivitas perdagangan mereka. Kalau mau menyebut pelaut ulung, maka yang paling tepat adalah orang Mandar”. (Kompas, Selasa, 10 Desember 2002). Sebenarnyapendapat senada sudah ada di dalam buku The Bugis (juga di dalam Manusia Bugis), namun tidak ada kalimat “maka yang tepat adalah orang Mandar”.

Walau tidak ada pembuatan anak judul yang mengaitkan Bugis dengan Mandar, di dalam buku Manusia Bugis, saya sebagai orang Mandar sepertinya membaca kebudayaan sendiri ketika membaca buku tersebut. Ini membuat saya semakin sadar bahwa sebenarnya kesamaan lebih banyak dibanding perbedaan antara “kita” (orang Mandar) dengan “mereka” (Orang Bugis). Kita jangan hanya melihat masa sekarang saja, namun harus merentangkan dan membuka lapis-lapis waktu sejauh yang memungkinkan untuk berpendapat bahwa “Mandar berbeda dengan Bugis”.

Ternyata budaya Mandar, misalnya siriq, sibaliparriq, sokkol patanrrupa, allawungan batu, hingga maccera’ juga menjadi salah satu unsur budaya penting di Bugis. Lalu ketika Pelras merinci hubungan kekerabatan, tata cara pelamaran-pernikahan, stratifikasi sosial, dan penghormatan terhadap perempuan, saya langsung teringat apa yang sering saya lihat dan alami di Mandar. Jika pun berbeda, itu hanya istilahnya, praktek hampir sama.

Buku ini amat penting untuk kita baca. Bukan hanya budayawan, ilmuwan, namun bagi masyarakat umum apa pun latar belakangnya dan tentunya generasi muda. Agamawan pun penting membacanya. Pelras dengan rinci menjelaskan praktek-praktek pra-Islam yang tidak dikenal dalam Islam, dan malah cenderung ke kemusyrikan, namun orang setempat menganggapnya sebagai ajaran Islam. Apakah ini bukan bahan untuk menyampaikan materi dakwah yang lebih mencerahkan?

Kaum bangsawan, yang biasanya hanya mengandalkan lontar koleksi keluarganya sebagai satu-satunya alasan untuk mengklaim dirinya, juga demikian. Pelras menjelaskan latar belakang penggunaan gelar “Andi”: “Sejak 1920 digunakan gelar baru di kalangan bangsawan Bugis atau Makassar untuk lapisan cera’ tellu, yakni gelar Andi’ dan Andi Bau’ (hanya bangsawan derajat paling tinggi saja yang digelari Andi Bau’ bahkan sebagian dari mereka harus puas dengan gelar Andi’ saja) ” (hal. 195). Sekali lagi, Pelras memang membahas Bugis, tapi fenomena itu juga ada di Mandar.

Buku Manusia Bugis adalah salah satu maha karya tentang Indonesia yang ditulis oleh orang Barat dalam satu dekade ini, bersama Nusa Jawa: Silang Budaya yang ditulis Denys Lombard (Gramedia, 1996). Buku yang ditulis Christian Pelras ini adalah sebutir intan yang amat berharga: berdasar riset kurang lebih 40 tahun. Dengan buku ini, kita bisa melihat manusia Bugis terbias dalam cahaya aneka warna; menjernihkan beberapa cahaya manusia Bugis yang membutakan, sekaligus memperterang sejumlah cahaya lain yang redup oleh informasi yang tidak memadai.

Pemahaman terhadap manusia Bugis, diharapkan menjadi salah satu bagian sinergi dari pergaulan yang lebih baik, khususnya di kawasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Satu suku tidak berada di atas suku lain, jika pun yang lain amat dikenal dan yang lain seakan dimarjinalkan, itu hanya pengaruh dari proses politik yang terjadi belum lama jika dibandingkan proses yang membuat kita mempunyai kesamaan akar budaya yang terjadi selama ribuan tahun. Tidak ada suku yang budayanya lebih luhur, lebih agung, sedang yang lain rendah. Saling menghargai atas perbedaan itulah yang utama.

One thought on “Resensi I Manusia Bugis: Mandar di Manusia Bugis

  1. Bukux Bagus banget walau aq hanya baca sebagian saja isix di internet, karena aq cari bukux di Makassar tapi tîðåk dapat! Ada tidak alamat linkx supaya bisa di download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>