Terkeras, Terjauh, dan Tercepat di Dunia

Terjauh, terkeras, dan tercepat adalah sifat yang dimiliki oleh lomba perahu tradisional Sandeq Race. Tanpa dijelaskan pun, bila berdasar pada tiga sifat tersebut, Sandeq Race merupakan kebanggaan masyarakat Mandar, sebagai pewaris “sah” tradisi per-sandeq-an, tanpa mengedepankan primordialisme yang berlebihan.

Adalah ironi (jika) sebagian besar masyarakat Mandar tidak terlalu perduli pada kegiatan itu, tetapi sebaliknya orang-orang luar (suku atau negara lain) rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk pelaksanaan lomba tersebut. Posasiq Mandar tidak diindahkan oleh saudara-saudaranya (orang Mandar secara khusus dan orang Indonesia), mereka hanya sebatas kebanggan, aksi tidak ada atau sangat jarang.

Terjauh, terkeras, dan tercepat itulah lomba perahu sandeq atau lebih dikenal dengan istilah Sandeq Race. Awalnya, Sandeq Race adalah lomba perahu sandeq yang mengambil rute Majene – Makassar atau sekitar 200 mil laut. Sandeq Race dalam skala besar yang mengambil rute tersebut mulai berlangsung sejak tahun 1995 dan pada tahun 2003 merupakan yang ke-7 (Sandeq Race 2006 yang ke-8).

Secara tahunan, lomba ini dilaksanakan pada musim timur atau mulai tanggal 11 Agustus di Majene dan berakhir di Makassar pada tanggal 16 Agustus. Lomba dilakukan secara bertahap: 11 Majene – Polewali; 12 Lomba Segitiga di Polewali; 13 Polewali – Ujung Lero; 14 Lomba Segitiga di Pare-pare; 15 Pare-pare – Barru; 16 Barru – Makassar. Sandeq Race diprakarsai oleh The Coastal Research anda Development Project (P3MP: Proyek Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat Pantai) of Hasanuddin University, Makassar.

Setelah mencoba memberikan pelaksanaan Sandeq Race ke pihak pemerintah pada tahun 2004 dan 2005, yang terbukti kurang sreg di hati pelaut-pelaut yang ikut serta didalamnya, pelaksanaan Sandeq Race yang memiliki ciri 3T (Terkeras, Terjauh, dan Tercepat) di atas kembali diadakan. Malah tambah jauh, yang menjadikan Mamuju, Ibukota Sulawesi Barat, sebagai tempat start. Waktunya pun digeser, yaitu berangkat pada tanggal 17 Agustus dan finish tgl 24 Agustus. Ini merupakan tantangan dan pengalaman tersendiri di kalangan nelayan Mandar.

Kehidupan laut tidak lepas dari ciri “kerasnya hidup”, ini sudah makanan sehari-hari nelayan Mandar ketika melaut. Saya yang jumlah melautnya belum seberapa sudah merasakan demikian, apalagi dengan nelayan yang kalau dipresentasekan, di laut kayaknya lebih lama dibanding di darat.

Karena bermediakan laut dengan lingkungannya yang ganas, kompetisi yang berhadap-hadapan dengan nelayan lain, berlangsung dalam waktu singkat, dan ada adu ilmu (baca: ilmu sihir), maka Sandeq Race pun tidak lepas dari sifat keras.

Meski belum pernah ada konflik yang keras dan berlarut-larut antar sesama peserta, harus diakui, dalam prakteknya persaingan antar pelaut di Sandeq Race ada pergesekan yang “hangat”. Seringkali itu tidak nampak sebab terjadinya di laut. Mungkin saja di atas langit ada saling lempar “cahaya” (baca: ilmu hitam). Ya, ada rumor yang berkembang di komunitas nelayan, bahwa selain ada ketangkasan melayarkan sandeq, adu ilmu pun terjadi. Jadi, ada bahaya yang kasat mata. Entahlah, saya yang sama sekali tidak punya “ilmu-ilmu” semacam itu tetap baik-baik saja meski sudah pernah ikut di atas sandeq yang berlomba.

Ada satu pengalaman menarik, saat sandeq yang saya ikuti akan memasuki finish di Pantai Losari, tiba-tiba leher kemudi patah. Artinya, beberapa puluh meter dari finish perahu gagal menyelesaikan lomba. Saya tidak tahu apakah itu karena ada yang “mengirim ilmu” atau karena faktor fisik belaka?

Selain langole (leher kemudi) yang patah, juga ada sandeq yang pallayarang dan peloang-nya yang patah. Ini merupakan bukti bahwa lomba memang keras!

Bagaimana dengan terjauh? Rute Majene – Makassar saja sudah dikatakan terjauh, apalagi dengan Rute Mamuju – Makassar. Dengan penambahan ini, maka posisi Sandeq Race sebagai lomba perahu layar tradisional yang paling jauh semakin kokoh. Sepengetahuan penulis, belum ada lomba perahu layar tradisional yang mendekati, sejauh, atau lebih jauh dari Sandeq Race.

Lomba perahu naga baik di Indonesia maupun negara lain, misalnya Hongkong, jauh di bawah Sandeq Race. Juga ada lomba perahu lain di Nusantara, jaraknya pun belum seberapa. Kalau dibandingkan, itu sama dengan lomba segitiga di Sandeq Race. Lomba segitiga di Sandeq Race adalah “bonus”, bukan lomba utama.

Jadi, ketika Sandeq Race hanya dilaksanakan di Teluk Mandar, itu sama saja menghilangkan salah satu ciri Sandeq Race!

Tercepat. Koq bisa disebut tercepat padahal sandeq di dalam lomba tidak menggunakan mesin? Menurut riset ilmiah, perahu sandeq adalah perahu layar tradisional tercepat di dunia. Artinya, dibanding perahu-perahu layar bercadik tradisional di seantero dunia ini, sandeq adalah perahu tercepat.

Sandeq bisa menjadi tercepat sebab desainnya yang ramping, panjang, dan ringan. Memang sandeq sengaja dibuat demikian sebab orientasinya memang kecepatan. Nelayan Mandar menargetkan ikan tuna atau ikan pelagis lainnya. Karena targetnya demikian, maka perahu harus cepat. Belum lagi hasil tangkapan yang harus segera dibawa ke darat agar tiba di tangan konsumen dalam keadaan segar.

Sandeq untuk menangkap ikan saja sudah cepat, apalagi kalau yang dibuat khusus untuk lomba (tanpa ada perubahan mendasar atas desain sandeq). Artinya, sandeq-sandeq di dalam Sandeq Race secara teori semakin cepat. Gara-gara cepat, kapal pengantar sering kewalahan mengejar sandeq yang sedang berlomba. Tentu harus ada tiupan angin.

Sandeq dengan angin yang baik dapat mencapai kecepatan 15-20 knot atau sekitar 30 – 40 km per jam. Bisa Anda bayangkan dengan kecepatan demikian. Kalau keadaan angin stabil dan tidak terjadi apa-apa di lapangan, sandeq yang berangkat dari Baurung dengan tujuan Polewali, bisa tiba bersamaan dengan pete-pete yang berangkat dari Tinambung menuju Polewali dengan kecepatan normal (kecepatan menaik-turunkan penumpang).

Kesimpulannya, Sandeq Race adalah perlombaan perahu yang digolongkan perahu-perahu tercepat di dunia! Jadi, wajar saja ada ciri T yang ketiga: tercepat! Anda mau merasakan kecepatannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>