Sekilas sarung sutra Mandar “Lipaq Saqbe”

4 September 2009 jam 20:56

Di tengah perkampungan, di bawah kolom rumah yang sejuk, tapi mungkin jorok di mata orang lain, lengan dan jemari wanita Mandar bergerak dengan lembut namun penuh energi: hentakan yang rancak nan merdu. Benang halus-lembuat melintas ke kanan-kiri. Lewat mata tajam dan ketelatenan, lahirlah lipaq saqbe. Sureq salaka, sureq, parara, sureq panglu dan corak lainnya, sederhana tapi penuh misteri. Masih di kolom rumah, wanita Mandar menjadi bagian dari manusia yang mengembangkan tradisinya. Terciptalah corak-corak modern, misalnya “sureq Jakarta”, “sureq tujuh sepuluh”, dan “sureq kdi”. Lipaq saqbe Mandar jauh melampaui fungsinya sebagai selembar sarung, sebagai salah satu puncak kebudayaan Mandar.

Menurut George Junus Aditjondro, “berbicara tentang sarung sutera, atau lippa sabbe’ dalam bahasa Bugis (hal. 269, 295 “Manusia Bugis”), juga tidak disinggung peranan perempuan Mandar sebagai perintis seni busana itu. Pelras malah dengan berani mengatakan, “orang Bugis memperoleh ketrampilan menenun sutera dari orang Melayu” (hal. 296). Padahal dari studi literatur (Saunders 1997: 33-4, Color Plate No. 27, 28) serta wawancara dengan beberapa orang informan asal Mandar di Palu, Yogyakarta, Jakarta dan Makassar dapatlah saya simpulkan bahwa bahwa perempuan Mandarlah, dan bukan orang Melayu, yang merintis penenunan sarung sutera di Sulawesi Selatan & Barat, dengan teknik ikat & celup (tie & dye). Selanjutnya, para perantau Mandar merintis penenunan apa yang kemudian dikenal sebagai ‘sarung Donggala’ dan ‘sarung Samarinda’ di daerah perantauan masing-masing. (Sumber: “Terlalu Bugis-Sentris, Kurang ‘Perancis’”. makalah George Junus Aditjondro pada acara Diskusi Buku “Manusia Bugis” di Bentara Budaya, Jakarta 16 Maret 2006).

Adapun Horst H. Liebner, “…, di daerah Mandar terdapat salah satu tanda yang dari riset-riset sejarah Nusantara diketahui sebagai bukti akan sejarah kemaritiman yang panjang: Penenunan sarung sutera, salah satu komoditi utama perdagangan tradisional di wilayah Asia pada ‘age of commerce’. Sarung sutera Mandar-lah yang dibawa oleh perahu-perahu Mandar pada abad-abad yang lampau sampai ke Malaya telah menjadi terkenal sebagai ‘sarung Bugis’, dan hubungan perdagangan yang dibuka para saudagar Mandar untuk jual-beli benang sutera dan hasil-hasil penenunan menjadi jaringan yang sejak beberapa abad meliputi seluruh Nusantara” (“Orientasi Kemaritiman dan Pengetahuan Indigen Pelaut-pelaut Tradisional: Pembuatan Perahu dan Pelayaran Suku Mandar, Konjo dan Bajo, Sulawesi Selatan”. Laporan Penelitian Horst H. Liebner, Proyek Penelitian dan Pengembangan Masyrakat Pantai, Universitas Koln, Jerman. 1995)

Berikut beberapa istilah di alat tenun Mandar:

Awerang: bambu licin yang berfungsi mengantar susunan benang

Cacah: kayu atau bambu yang berfungsi sebagai tempat pammaluq

Cinggaq: bahan pewarna

Galenrong: alat penggulung benang, biasanya terbuat dari pipa

Kokong: kepompong ulat sutera

Lumu-lumuq: alat yang digunakan untuk mengantar benang pada saat menenun

Manetteq: kegiatan menenun

Sumau: mempersiapkan benang yang akan ditenun yaitu dengan mengatur warna benang yang akan menentukan corak sarung yang akan dibuat. Setelah proses massumau selesai, benang yang sudah diatur digulung ke pammaluq untuk kemudian menjalani proses penenunan

Paqayung: alat penggulung benang yang berukuran lebih besar

Palapa: alat yang berfungsi mengatur jarak dan menyangkut ujung benang sehingga memudahkan terbukanya benang lungsi atas-bawah sewaktu benang pakan dimasukkan

Peluncur: alat untuk menggulung benang yang dikeluarkan dari jarum.

Pamatteq: alat yang digunakan untuk merapatkan benang pakan

Pammaluq: kayu berbentuk papan yang berfungsi menggulung benang yang telah dianai dan siap untuk ditenun

Panetteq: orang yang menenun

Passa: alat yang digunakan untuk menahan ujung benang yang akan ditenun, juga sebagai  tempat menggulung tenunan yang sudah selesai

Pattakko: kayu sebesar jari kelingking sepanjang pammaluq yang berfungsi menahan ujung benang lungsi

Rowing: alat penggulung benang setelah direndam atau diwarnai

Saqat: alat yang berfungsi mengantar benang lungsi di bagian tengah tenunan

Saqbe: sutra

Sora: bambu kecil yang diluncurkan balik membawa benang pakan di antara benang lungsi

Suruq: berfungsi untuk mengatur benang, yang menentukan lebar tenunan

Susuqale: alat yang terbuat dari kayu yang berfungsi mengikat benang lungsi saat benang pakan dan pamatteq dimasukkan.

Talutang: alat yang terbuat dari kayu yang pada bagian tengahnya melebar dan melengkung, berfungsi sebagai tempat sandaran pada saat menenun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>