Menggadaikan Mamuju: Pembangunan atau Penghancuran?

Ini tulisan saya April 2007 lalu, sepertinya masih up to date …

Mungkin karena Sulawesi Barat yang beribukota Mamuju adalah provinsi kemarin sore alias anak bawang, para investor dan pereguk keuntungan sesaat tak berpikir ke depan menganggap akan mudah melakukan apa saja di provinsi bungsu ini. Ini bukan ocehan, buktinya berada jelas di depan kita: hanya beberapa langkah dari Kantor Gubernur, dari Kantor Bapedalda, dan dari Kantor DPRD berlangsung reklamasi pantai yang dilakukan tanpa menyertakan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

Membangun rumah beberapa meter persegi saja mengharuskan adanya IMB, apalagi menimbun pantai sekian hektar. Eksekutif di Mamuju menyediakan karpet merah dan sebagian (besar?) legislatif mendukung dengan malu-malu kucing proyek perusakan bertopeng pembangunan itu. Mahasiswa tahun pertama yang mempelajari lingkungan saja sudah pasti tahu mereklamasi pantai akan merusak lingkungan (apalagi tanpa AMDAL), apalagi orang-orang pintar yang berada di menara gading.

Saya tidak tahu apa yang telah membutakan mata para pelayan kita (baca: eksekutif, harus dipahami mereka adalah pelayan, bukan raja!) dan wakil kita di DPRD. Mudah-mudahan bukan uang segepok. Atau mungkin silat lidah para investor dan konsultan yang membuat mereka terlena? Bahwa jika sang Manakarra direklamasi, maka kota Mamuju akan ramai oleh turis, kota Mamuju akan megah, orang-orang berdatangan, Mamuju makmur, Mamuju terkenal, Mamuju tampang, Mamuju setara dengan kota-kota lain, Mamuju disegani.

Tidak apa-apa itu yang terucap dan dirayukan, sebab penjual kecap akan selalu mengatakan kecapnya nomor satu. Bila berbicara dalam lingkup dunia ilmiah, berdiskusi dengan para pencetus dan pelaku reklamasi Mamuju sepertinya tak satu level. Ya, mereka tak menggunakan akal sehat atau rasio. Buktinya, koq mereka tidak melakukan analisis akan dampak kegiatan yang mereka lakukan terhadap lingkungan?

Tapi tidak apa-apa, yang sehat yang mengalah. Letak Pantai yang akan direklamasi, Pantai Manakarra, adalah salah satu bagian dari Teluk Mamuju. Batas di darat Teluk Mamuju berawal dari Tanjung Rangas di barat, menuju timur laut sampai ke pantai sekitar muara Sungai Kalukku. Di dalam teluk ini ada Pulau Karampuang, pulau kecil yang panjangnya sekitar 4 km, lebar 2 km. Jarak terdekat dari daratan Sulawesi sekitar 1,7 km.

Bila menganggap Pulau Karampuang sebagai bagian dari daratan Pulau Sulawesi (dengan alasan perairan yang mengantarai tidak terlalu dalam dan di situ ada karang permukaan yang tak bisa dilintasi kapal), maka ada “teluk” lain di dalam Teluk Mamuju. Di “teluk” ini ada dua obyek penting: Pelabuhan Feri di Simboro dan Pantai Manakarra. Menggolongkan keduanya sebagai obyek penting tidak serta merta menafikan keberadaan pemukiman penduduk, dermaga alam para nelayan, dan lokasi perkantoran. Karakteristik Lingkungan pantai sangat jauh berbeda dengan perbukitan. Anak SD saja tahu hal ini.

Artinya, perlakukan terhadap keduanya tentu tak sama. Di pantai ada hal dinamis. Ya, karena ada faktor fisik selain darat, yaitu air (laut). Laut beda dengan sungai dan danau. Laut “benda” paling dinamis di muka bumi ini, sehingga ada banyak cabang ilmu untuk memahami tingkah laut, mulai dari oseanografi, perikanan, pertambangan laut, hingga kebudayaan para pemanfaat laut.

Pantai Manakarra jelas tak beda dengan pantai lain. Dia terbentuk dari proses alam ratusan tahun, hingga mencapai “keseimbangan” saat ini. Pantai Manakarra tidak sendiri, dia menjadi bagian dari pantai-pantai lain di sekitarnya. Ketika ada revolusi terhadap Pantai Manakarra, kawasan lain didekatnya pasti “terkejut” dan akan merespon dengan melakukan penyesuain-penyesuain.

Penyesuain dilakukan bukan atas keinginan makhluk manusia, tapi oleh “instink” alam. Mau berdampak negatif atau berdampak positif, itu urusan “alam”. Sampai pembicaraan ini, apakah para pe-reklamasi (baca: investor dan pejabat yang mendukungnya) sudah menganalisis dampak dari apa yang mereka lakukan? Jika ya, mana? Jika ya, mari kita perdebatkan. Jangan sembunyi-sembunyi dong!

Sekarang kita kembali “berandai-andai” jika Pantai Manakarra direklamasi. “Berandai-andai” tidak dilakukan seenaknya, sebab didasari fakta-fakta ilmiah. Dan kalau memang “berandai” salah, bukankah para penimbun pantai juga “berandai-andai”? “Jika direklamasi, akan dibangun bla … bla … bla …”.

Kedinamisan di Pantai Manakarra, tidak kasat mata. Tiap detik air laut bergerak, ada pasang, ada surut, ombak sesekali menghantam tanggul. Kadang panas berada di sini, kadang sejuk oleh hembusan angin laut. Apakah investor dan konsultannya (mudah-mudahan konsultannya bonafid!), mempunyai data pasang-surut Pantai Manakkara? Sepertinya tidak, kan mereka tak punya AMDAL! Karena tidak, yang mereka telah lakukan adalah pengerusakan dan bunuh diri. Alasannya, mereka menimbun laut tapi tak punya data pasang tertinggi di tempat yang mereka timbun. Lalu bagaimana dengan pola arus yang terjadi di Pantai Manakarra dan sekitarnya?

Data pasut (pasang-surut) saja tak punya, apalagi data arus. Kalau memang ada, mana data itu? Perlihatkan dong! Sebab tak punya data arus, jelas mereka tak tahu dampak penimbunan yang mereka lakukan. Dilihat sekilas, nampaknya Pantai Manakarra atau “Losari-nya” kota Mamuju terlindung oleh Pulau Karampuang. Ya, untuk beberapa kasus memang demikian, tapi pada dasarnya tidak. Pulau Karampuang “hanya” titik kecil. Teluk Mamuju adalah “sasaran empuk” arus utara. Artinya, ada arus kuat yang mempengaruhi pantai ini. Selain itu, karena berada di teluk kecil, Kota Mamuju lebih besar menerima tekanan gelombang laut jika terjadi tsunami.

Dengan kata lain, karena Kota Mamuju berada di lokasi rawan gempa, menfokuskan pemukiman, lokasi perdagangan, dan kegiatan politik pas di pantai sama saja kita tak mengambil hikmah dari peristiwa di Aceh. Yang bisa terjadi Baiklah, kita kembali ke tesis bila Pantai Manakarra direklamasi. Menurut pemberitaan di media massa, luas reklamasi meliputi areal sekitar 12 ha lebih, yaitu dari Pelabuhan Batu Mamuju sampai di kawasan pelelangan ikan. Berdasar pada kondisi geografis, pantai yang ditimbun adalah kawasan yang landai, berdasar pasir. Kisaran kedalaman bila terjadi pasang sekitar 1-6 meter.

Di luar batas bagian yang direklamasi, kedalamannya sekitar 10 meter. Ketika reklamasi selesai dilakukan, maka jarak ke Pulau Karampuang (atau Pulau Mamuju) akan semakin dekat, apalagi karang permukaan yang ada di antara Pulau Karampuang dengan pantai yang direklamasi.

“Bergesernya” daratan ke arah laut, akan menimbulkan penyesuaian oleh faktor-faktor fisik laut. Ombak yang menghantam tak teredam lagi (sebab peredamnya ditimbun!) dan pola arus akan berubah di kawasan ini. Paling tidak ada dua “pintu” arus, yaitu dari arah utara timur laut (selatan P. Karampuang) dan dari utara, antara Tanjung Rangas dengan P. Karampuang). Karena di dekat pantai yang ditimbun ada beberapa muara sungai, maka efek arus bukan tekanan air semata, tetapi timbunan sedimen yang berasal dari sungai.

Artinya, arus masuk membawa sedimen, yang lama kelamaan akan bertumpuk di satu tempat. Karena ada halangan (barrier) fisik yang baru, maka pola timbunan sedimen akan berubah. Tempatnya bisa di mana saja, tergantung “kemauan” arus. Arus dari timur Pantai Manakkara yang membawa sedimen Sungai Mamuju akan tertahan di antara karang permukaan (selatan P. Manakkara) dengan ujung timur tempat yang direklamasi. Bila ini yang terjadi, akan terjadi pendangkalan di tempat ini. Bila sedimentasi terjadi terus menerus, maka bukan hal mustahil terjadi penyatuan antara Pulau Sulawesi dengan karang permukaan di dekatnya.

Penyatuan menimbulkan efek beragam. Akan diikuti perubahan pola arus yang lain, yang dampaknya semakin susah diperhitungkan. Bukan hanya itu, navigasi pelayaran akan semakin sulit dilakukan di areal ini. Dengan kata lain, karena kawasan ini dangkal, navigasi tak bebas dilakukan. Tentu ini berefek ke kegiatan maritim (perikanan dan pelayaran) dan juga pada pariwisata!

Lama kelamaan akan terjadi penyatuan dengan Pulau Karampuang. Sekali lagi, oleh alam itu bukan hal mustahil. Dilihat di atas tanggul Pantai Mamuju, Pulau Karampuang memang jauh, tapi sebenarnya tidak. Jaraknya hanya sekitar 1,7 km. Arus yang masuk dari sebelah barat P. Karampuang juga bisa menimbulkan efek, sebagaimana di timur. Di sini juga ada sungai yang bermuara, yaitu Sungai Karema. Karena ada perubahan pola arus, maka akan ada tempat “baru”, tempat di mana sedimen berhenti. Tempatnya bisa di mana saja, salah satunya adalah areal Pelabuhan Feri. Kalau perairan ini dangkal, efeknya amat gampang ditebak, feri tak bisa merapat! Apakah mereka sudah memperhitungkan hal ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>