Wanita Mandar Tak di Dapur Saja

Beberapa tahun terakhir, tema sibaliparriq banyak menginspirasi para seniman Mandar dalam menghasilkan karya. Dua diantaranya tema yang diusung Provinsi Sulawesi Barat di Pawai Budaya Nusantara pada Agustus 2009 dan tema Festival Budaya Mandar di Kabupaten Polewali Mandar pada Desember 2010.

Konsep sibaliparriq juga ditemukan di kebudayaan suku-suku lain di Nusantara, khususnya di Sulawesi Selatan. Nilai luhur warisan nenek moyang ini, meski umum ditemukan di masyarakat, tapi lebih banyak diidentikkan dengan dunia kebaharian. Hal tersebut disebabkan kaum laki-laki lebih banyak tinggal di laut (jauh dari keluarga) yang tentunya memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada isteri mereka untuk menggantikan posisi kepala rumah tangga selama suami masih di laut.

Peran perempuan Mandar dalam keluarga diwujudkan dalam konsep sibaliparriq, yaitu konsep kerjasama dalam keluarga antara suami dengan isteri. Secara harfiah, sibaliparriq terdiri dari dua kata, yaitu: sibali (menghadapi) dan parriq (kesusahan, permasalahan). Dengan kata lain sibaliparriq adalah konsep yang berarti suami dan isteri masing-masing adalah subyek dalam menanggulangi bersama permasalahan rumah tangga, baik masalah sosial (merawat dan mendidik anak) sampai masalah ekonomi (keuangan).

Berdasarkan anutan nilai budaya sibaliparriq itulah mengapa perempuan-perempuan Mandar yang sudah bersuami di dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya tidak dibatasi pada konsep hubungan suami sebagai pekerja dan isteri sebagai penjaga anak-anak dan mengurusi suami (house-wife).

Hubungan suami isteri orang Mandar dalam rumah tangga senantiasa terdapat kerjasama secara gotong royong dengan pengertian bahwa bukanlah semata-mata suami yang harus bekerja, tapi sang isteri pun bertanggung jawab dalam memenuhi kehidupan rumah tangga. Isteri melaksanakan kegiatan tersebut tidak berdasarkan pada perintah dari suami melainkan atas kesadaran sendiri.

Dalam latar belakang budaya sibaliparriq, tidak jarang seorang isteri bekerja di berbagai sektor lapangan kerja, misalnya: panetteq (penenun), penjual sarung, penjual ikan, pegawai negeri, pedagang di  pasar, maupun bertani. Mereka melakukannya tanpa rasa risih atau keluhan. Tidak jarang pula terjadi sang isteri yang membanting tulang bekerja untuk mencari nafkah adapun suaminya tinggal di rumah memasak dan mengasuh anak. Semuanya dikerjakan dengan penuh kesadaran agar dalam rumah tangga senantiasa terwujud makna yang terkandung dalam: siron-rondoi, siamasei, dan sianaoppamai atau secara umum dikenal dengan istilah sibaliparriq.

Walaupun demikian “takdir” suami sebagai kepala rumah tangga dan isteri sebagai pengurus rumah tangga tidaklah terabaikan. Suami tetap merupakan kepala rumah tangga, isteri mengurusi kebutuhan anak, mengurusi kehidupan ekonomi dan lain sebagainya. Di kalangan laki-laki Mandar yang sudah berkeluarga akan timbul rasa siriq (malu) bila dalam waktu yang lama (tanpa alasan kuat) terus menerus ditanggung kebutuhannya oleh sang isteri, dengan kata lain sang suami tidak bekerja. Dia akan berusaha keras untuk mendapatkan pekerjaan walaupun itu bukan bidang yang ia kuasai. Hal inilah yang menyebabkan banyak laki-laki Mandar yang pergi merantau untuk mencari nafkah buat keluarganya yang tetap tinggal di kampung.

Antar suami dengan isteri tidak ada persaingan pendapatan. Maksudnya adalah bila pendapatan suami lebih kecil daripada sang isteri, maka suami tidak merasa minder (rendah diri), demikian pula sebaliknya, sang isteri tidak angkuh di hadapan suaminya. Semua itu dikarenakan mereka didasari pada konsep sibaliparriq.

Merupakan ‘pendapat umum’ yang mengatakan bahwa perempuan dalam pekerjaan (waktu kerja, besarnya pendapatan, lingkungan pekerjaan) berada di bawah laki-laki atau perempuan sebagai subordinasi. Kaum laki-laki, yang superordinasi, bekerja lebih keras dengan lingkungan kerja yang berbahaya, dengan demikian pendapatannya lebih tinggi daripada kaum perempuan. Dengan posisi yang demikian, tentu banyak faktor yang memberi/mendapat pengaruh pada/ke aspek lain peran mereka sebagai seorang perempuan, yaitu: menikah, ibu rumah tangga, melahirkan anak, merawat, membantu suami, dan lain sebagainya.

Hal yang perlu diketahui adalah, apakah peran besar yang dimilikinya, lewat kesetaraan dalam konsep sibaliparriq, secara otomatis menjadikan mereka ‘diperhitungkan’ atau paling tidak pengaruh ‘negatif’ dari laki-laki tidak terlalu besar, misalnya kekerasan, pengambilan keputusan, kesempatan untuk mewujudkan keinginan, dan lain sebagainya.

Posisi kaum perempuan, khususnya di komunitas nelayan atau pelaut di Mandar, paling tidak dipengaruhi oleh tiga faktor: agama, adat istiadat (tradisi), dan “apa yang mereka kerjakan” (kaitannya dengan kegiatan sosial ekonomi). Dua faktor yang pertama, seakan-akan menempatkan perempuan ‘di bawah’ laki-laki, dan akan semakin menguat di dalam adat istiadat.

Sedangkan yang ketiga, menjadikan pengaruh sebelumnya seakan melemah ketika perempuan mempunyai peran yang penting dalam kegiatan ekonomi dan sosial. Tetapi sebaliknya jika perempuan tersebut ‘biasa-biasa saja’, posisi mereka akan tetap di bawah dominasi laki-laki. Dan inilah yang banyak terjadi di komunitas nelayan Mandar, terlepas dari besarnya peran perempuan di dalam keluarga dan potensi mereka untuk mengatur ekonomi rumah tangga.

Walaupun pada umumnya perempuan juga melakukan pekerjaan yang secara nyata membantu ekonomi keluarga, hal tersebut tidak dapat dijadikan asumsi bahwa peran mereka telah ‘lebih baik’. Bagi komunitas nelayan Mandar, isteri atau anak perempuan yang membantu suami adalah suatu yang wajar dan wajib dilakukan (lebih besar disebabkan pengaruh agama dan tradisi).

Membantu suami saat akan pergi melaut, mengolah hasil tangkapan dan kemudian menjualnya adalah hal yang harus dilakukan, sehingga bisa dikatakan, aktivitas isteri tersebut bukanlah sebuah profesi, walaupun dari aspek ekonomi mendatangkan keuntungan. Yang bekerja adalah suami (nelayan), tapi karena suami mereka harus beristirahat atau akan melaut lagi, tugas merekalah untuk menjual hasil tangkapan tersebut. Namun hal tersebut akan berbeda jika sang isteri mempunyai pekerjaan lain, misalnya pedagang (bukan komoditas perikanan); suami mereka bukan seorang nelayan atau tidak bekerja; atau mereka sudah menjadi seorang janda.

Bekerja sebagai pengolah dan penjual ikan atau membuat sarung sutera adalah hal yang ‘paling bisa’ mereka lakukan atau sebagai pilihan terakhir untuk membantu ekonomi rumah tangga (ini memperkuat pendapat sebelumnya, bahwa bisa dikatakan pekerjaan isteri nelayan tersebut bukanlah pekerjaan, tetapi hal yang memang harus dilakukan).

Untuk melakukan pekerjaan lain merupakan hal yang sulit, sebab harus didukung oleh banyak faktor, seperti tingkat pendidikan, keterampilan yang mereka miliki, akses terhadap sumber daya (modal, jaringan dengan pihak lain), dan lain sebagainya. Dan untuk mendapatkan itu semua adalah hal yang sulit, khususnya ketika mereka berasal dari komunitas nelayan itu sendiri. Sebab sedari kecil mereka harus membantu orang tua mereka; lingkungan yang tidak mendukung untuk menempuh pendidikan lebih tinggi; dan lain-lain. Saat mereka dewasa kemudian menikah, hal tersebut akan semakin jauh karena perhatian akan mereka pusatkan kepada keluarga, yang pada gilirannya mereka melakukan ‘profesi’ membantu suami.

Di dukung oleh ‘aturan’ yang terdapat dalam konsep sibaliparriq, semua hal di atas dilakukan tanpa ada rasa keterpaksaan: isteri bekerja secara ikhlas dan suami pun tidak akan malu jika isterinya mempunyai pendapatan yang lebih besar. Pengaruh agama dan tradisi yang menghormati posisi perempuan (biarpun di bawah laki-laki) tidak menjadikan kaum laki-laki bebas melakukan pemaksaan atau kekerasan terhadap perempuan.

Beberapa contoh adalah: sebagian besar pendapatan suami diserahkan pada isteri; jika mempunyai kemampuan ekonomi untuk melakukan ibadah haji, perempuan (isteri) didahulukan; dan saat ini, ketika komunitas nelayan sudah mempunyai kesadaran akan pentingnya pendidikan, anak perempuan lebih diutamakan untuk melanjutkan pendidikan daripada anak laki-laki (tentunya ini dipengaruhi pertimbangan ekonomi: anak laki-laki bisa ikut melaut).

Hal-hal yang tampak ‘merugikan’ posisi perempuan di komunitas nelayan Mandar adalah: jika mereka sebagai ibu rumah tangga, harus banyak melakukan kegiatan, yaitu kegiatan keluarga dan kegiatan ekonomi, yang umumnya dilakukan secara bersamaan; jika sebagai anak perempuan, mereka harus membantu orang tua mereka; untuk beberapa kasus, anak perempuan lebih diinginkan untuk cepat menikah; lingkungan yang mengutamakan untuk menutupi ketidakstabilan ekonomi rumah tangga dan tidak mempunyai akses dan waktu untuk melakukan hal lain (sosial, politik, dan pendidikan), menanamkan ke alam sadar mereka bahwa yang diutamakan adalah pekerjaan.

Pengaruh-pengaruh tersebut di atas, khususnya yang terakhir sangat tampak ketika seorang anak perempuan menyelesaikan tingkat pendidikan SMU (atau yang sederajat), mereka seakan tidak tahu harus melakukan hal apa: ingin lanjut?, biaya tidak ada; melakukan pekerjaan lain?, tidak ada keterampilan. Tidak adanya motivasi membuat mereka tetap melanjutkan ‘tradisi’ yang ada di komunitas mereka.

Posisi yang ‘merugikan’ tersebut bukanlah hal yang sederhana, sebab banyak faktor yang menyebabkannya. Paling tidak dibutuhkan keinginan dari diri perempuan sendiri agar dapat keluar dari lingkungan yang demikian. Ini tampak dari beberapa kasus, ketika sudah ada perempuan di komunitas nelayan yang menjadi seorang guru, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, melakukan pekerjaan yang lebih menguntungkan daripada ‘pekerjaan’ membantu suami, dan sebagainya, yang pada gilirannya mereka memiliki peran penting di dalam komunitas mereka.

Peran Perempuan dalam Komunitas Nelayan

Secara umum aktivitas-aktivitas perempuan (isteri nelayan atau anak perempuan) dapat dikategorikan ke dalam kegiatan ekonomi dan kegiatan domestik. Keterlibatan dalam kegiatan pengolahan ikan, perdagangan, jasa dan sebagainya diklasifikasikan sebagai kegiatan ekonomi. Adapun kegiatan-kegiatan lain, seperti mengurus anak, berbelanja, membersihkan rumah, aktivitas di dapur, dan sebagainya, diklasifikasikan sebagai kegiatan domestik.

Aktivitas domestik mencakup aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam bidang-bidang pekerjaan yang hanya dibatasi pada lingkup keluarga, sedangkan aktivitas publik mencakup aktivitas-aktivitas dalam bidang ekonomi dan politik, yang mengambil tempat atau memiliki dampak melampaui batas-batas unit keluarga dan yang berkaitan dengan pengontrolan pihak lain atau suatu hal.

Dalam kegiatan ekonomi, dalam hal ini produksi secara langsung (penangkapan ikan), untuk perempuan di Mandar, bisa dikatakan tidak ada atau mereka tidak terlibat langsung. Sebaliknya, isteri-isteri nelayan atau anak-anak perempuan lebih banyak berperan dalam kegiatan pemasaran dan pengolahannya. Salah satu strategi adaptasi yang ditempuh oleh rumah tangga nelayan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi keluarga adalah para nelayan mendorong isteri mereka untuk ikut mencari nafkah, tapi biasanya itu merupakan kesadaran isteri nelayan sendiri. Pada umumnya, untuk isteri-isteri nelayan aktivitas ekonomi tersebut adalah dengan memperdagangkan hasil tangkapan suami atau membeli dari nelayan lain untuk kemudian menjualnya.

Peran domestik yang akan dibahas berikut adalah aktivitas umum yang dilakukan oleh perempuan Mandar di dalam komunitas nelayan atau pelaut, yang dilakukan di lingkup rumah tangganya, meliputi partisipasi isteri (atau anak perempuan) dalam persiapan melaut nelayan dan kegiatan ritual. Adapun kegiatan perawatan anak atau rumah tangga sengaja tidak dimasukkan. Peran domestik yang dapat mendatangkan profit dimasukkan ke dalam peran publik.

Pekerjaan-pekerjaan domestik yang dilakukan oleh perempuan merupakan harga yang harus dibayar oleh perempuan sebagai tanda kasih sayang dan cinta pada keluarga (suami dan anak-anaknya). Salah satu fungsi dari pekerjaan domestik yang paling menonjol adalah pekerjaan itu dilakukan untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (yakni anggota keluarga) dan pekerjaan tersebut tidak dianggap sebagai ‘pekerjaan sesungguhnya’ karena perempuan tidak pernah menerima upah dari pekerjaannya itu.

Pekerjaan-pekerjaan domestik lebih mencerminkan kewajiban kultural daripada mencari keuntungan ekonomi. Karena alasan tersebut kegiatan yang masuk di peran publik tidak sepenuhnya ‘murni’, sebab dia juga bagian dari peran domestik. Namun karena alasan kegiatan itu ditampilkan secara komersil dan nilai ekonominya dapat diukur, maka bagian peran domestik dimasukkan ke peran publik (kegiatan ekonomi).

Sebagai seorang isteri, perempuan di Mandar berkewajiban untuk membantu suaminya dalam melakukan pekerjaan. Aktivitas yang umum dilakukan oleh perempuan (baik isteri maupun anak perempuan) untuk mempersiapkan keberangkatan suami (atau anak mereka yang menjadi sawi) adalah mempersiapkan bahan pengawet, yaitu es batu. Untuk pelayaran yang membutuhkan waktu lama, misalnya motangnga, isteri harus mempersiapkan perbekalan/logistik suami mereka. Misalnya membuat lauk yang tahan beberapa hari. Selain persiapan yang ‘umum’, isteri juga terlibat pada beberapa kegiatan ritual, misalnya kuliwa dan tolaq bala.

Isteri juga mempunyai peran dalam aspek religius, di mana peran ini tidak termasuk dalam kegiatan ekonomi (produksi) dan tidak umum dimasukkan sebagai peran domestik. Ketika mereka merasakan suami atau anaknya sedang menghadapi bahaya di laut, ditandai dengan adanya peristiwa alam berupa arus dan gelombang yang kuat serta angin yang kencang yang terjadi di lingkungan mereka, para isteri melakukan kegiatan ritual di rumah, yaitu kegiatan ritual diluar do’a dalam shalat.

Kegiatan ritual yang mereka lakukan tersebut bertujuan agar anggota keluarga mereka yang sedang melaut terhindar dari bahaya. Contoh kegiatan ritual tersebut adalah: menyandarkan pikelluq (alat pemarut kelapa khas Mandar) di daun pintu; atau menyandarkan paqdisangmoane (bantal guling) di posiqarriang; atau mendirikan pappamalingan (salah satu alat yang digunakan dalam penenunan sarung sutera yang terbuat dari bambu) di dalam tungku. Makna dari (ussul) yang mereka lakukan tersebut adalah agar tiang layar perahu yang ditumpangi oleh anggota keluarga mereka tetap tegak. Atau dengan kata lain, perahu tetap dalam keadaan baik (tidak terbalik atau tidak tenggelam).

Selain kegiatan ritual tersebut di atas, para isteri juga biasa menemani suami mereka berdo’a sebelum pergi melaut. Kegiatan berdo’a yang diiringi pembakaran undung (dupa) dilakukan di dekat posiq arriang. Para isteri juga biasa menyimpan piring dan gelas atau alat makan suami atau anak laki-laki mereka, yang terakhir mereka gunakan sebelum melaut, di bawah tempat tidur. Dan mereka akan bersihkan setelah suami mereka sudah datang. Adapun kegiatan ritual yang rutin dilakukan oleh isteri nelayan adalah tolaq bala (lihat pembahasan khusus tentang Tolaq bala).

Secara ‘teori’, peran perempuan dalam kegiatan publik tentunya lebih besar daripada peran laki-laki, sebab perempuan mempunyai lebih banyak waktu atau berada di darat. Ini disebabkan kaum laki-laki yang lebih lama berada di laut daripada di darat ‘tidak punya’ waktu (kesempatan) untuk melakukan aktivitas publik, seperti berdagang, aktif di politik lokal atau aktivitas sosial lainnya.

Ini jika kita berangkat dari satu tesis yang mengatakan tidak adanya kekuatan tawar-menawar nelayan dalam perpolitikan lokal disebabkan mereka tidak ada kesempatan untuk terlibat di dalamnya karena lebih lama di laut. Tapi dari kenyataan di lapangan, khususnya di komunitas nelayan Mandar dan dalam bidang sosial, kesempatan tersebut ‘tidak dimanfaatkan’ oleh kaum perempuan. Beberapa penyebabnya adalah: kesibukan domestik perempuan, tingkat pendidikan, dan peran tersebut dilakukan oleh laki-laki yang tidak melaut.

Namun dalam bidang ekonomi, perempuan mempuyai peran utama, baik peran ekonomi dari sisi peran domestik, maupun di sisi peran publik.

Untuk anggota keluarga nelayan, peranan isteri dan anak perempuan cukup besar, baik dalam kegiatan pemasaran maupun pengolahan hasil tangkapan. Sebagai contoh: setelah mendekati waktu tibanya perahu-perahu parroppong, beberapa anggota keluarga nelayan mulai dari anak kecil, isteri-isteri nelayan sampai pembeli ikan yang datang dari luar desa, berkumpul di pinggir pantai untuk menyambut datangnya anggota keluarga mereka yang melaut.

Saat tiba dan termos-termos (tempat ikan) sudah dipindahkan dari perahu ke daratan, para anggota keluarga yang menunggu tersebut langsung membawa termos-termos tersebut ke rumah masing-masing untuk ‘diperlakukan’ lebih lanjut. Perlakuan tersebut dapat berupa mengganti es yang sudah mencair atau melayani pembeli yang datang dari luar. Bila ikan sudah lama ditangkap, setelah mengganti es-nya, mereka langsung pergi ke pasar-pasar di luar desa/kecamatan yang mereka tempati, khususnya di terminal-terminal kecamatan. Adapun ikan yang masih baru, dipasarkan keesokan harinya. Mereka berangkat ke lokasi-lokasi pemasaran setelah shalat subuh.

Selain kegiatan pemasaran hasil tangkapan, isteri nelayan juga memegang peranan utama pada pengolahan (pengawetan) hasil tangkapan. Setelah aktivitas yang membutuhkan penanganan cepat selesai, yaitu ikan-ikan yang masih segar, isteri-isteri nelayan beralih pada pengolahan hasil tangkapan yang lain. Yaitu ikan-ikan yang telah diolah oleh nelayan sewaktu masih berada di laut, dalam hal ini ikan yang sudah dibelah dan digarami.

Ikan-ikan asin tersebut mereka cuci dengan bersih untuk kemudian dijemur. Para ibu rumah tangga juga sering mengolah ikan-ikan yang datang dari luar daerah, khususnya dari Kabupaten Bone dan Kabupaten Bulukumba (Kajang). Ikan-ikan tersebut mereka olah menjadi bau tapa (ikan pindang).

Pada umumnya, isteri-isteri nelayan hanya sampai pada tingkat pendidikan SD atau SLTA. Dari hal tersebut, pekerjaan yang mereka lakukan untuk mendukung perekonomian rumah tangga hanya sebatas pada kegiatan berwiraswasta. Kegiatan tersebut dapat berupa: menjual hasil tangkapan nelayan; usaha kecil-kecilan, seperti membuka warung; menenun sarung sutera; menyicilkan barang, seperti baju dan barang pecah-belah; dan lain sebagainya. Adapun isteri nelayan yang menjadi pegawai negeri sangatlah jarang, walaupun ada itu hanya sebatas sebagai isteri pemilik perahu atau penanam modal alat tangkap (roppo, mesin, dan gae).

Pemasaran hasil tangkapan dan penenunan sarung sutera, dapat diperankan sekaligus oleh isteri nelayan, sebab antara yang satu dengan yang lainnya tidak saling mempengaruhi, khususnya waktu yang digunakan. Kegiatan penenunan sarung sutera dilakukan pada waktu senggang, di saat mereka sudah kembali dari pasar. Pekerjaan sebagai penenun ditekuni oleh kaum perempuan di segala usia (saat kondisi fisik mereka sudah mampu mengoperasikan alat tenun tradisional), baik yang masih gadis maupun yang sudah berkeluarga.

Pilihan terhadap pekerjaan ini pada masa lalu bukan hanya untuk kepentingan ekonomi, melainkan dimaksudkan untuk pengisian waktu luang bagi keluarga nelayan apabila suami mereka sedang melaut dan kewajiban keluarga lainnya sudah selesai. Keterlibatan perempuan muda dalam bekerja sebagai penenun dimaksudkan sebagai sarana belajar untuk persiapan sebelum bekerja. Di sini terlihat unsur pembelajaran, selain untuk orientasi ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>