Ritus Bisikan Ombak

Lima lelaki Mandar berdiri di garis pantai kampung pentranskripsi cerita kuno La Galigo, Desa Pancana, Barru. Matanya tajam, kulit mengkilat, passappu di kepala, sarung sutra corak perak (sureq salaka), bertelanjang dada. Awan mendung, gerimis.

Satu per satu mereka menyapa laut dengan “kalinda’da’” yang menggetarkan. Puluhan penonton yang berdiri di tanggul diam, tak ada suara.

Sekelebat setelah lelaki terakhir melontarkan “kalinda’da’”, gerakan sigap dan tangguh diperlihatkan lima lelaki tersebut. Mereka bergerak laksana seorang pesilat, jurus mematahkan atau melumpuhkan lawan diubah sedemikian rupa, sehingga setiap gerakan diakhiri dengan rantai tubuh satu sama lain dengan menggunakan lengan. Irama bunyi kaki yang menghantam pasir hitam, gesekan sarung sutra, dan diiringi teriakan khas pa’macca, “Tawe’, … jagai, … eee matingie” terdengar menggetarkan. Gerakan keras tapi indah.

Lalu bergerak menjauhi garis pantai ke arah lima rebana yang tergeletak di pasir. Formasi mereka bentuk: dua di kiri, satu di tengah, dua di kanan. Yang di tengah membungkukan diri. Oh, dia berlagak seperti kuda “pattu’du”. Namun tangan tetap memainkan rebana bersama empat yang lain. Bunyi rebana yang rampak tertabuh bersama dengan gerak tubuh “Hap Ö hap Ö”. Gerakannya dipandu seorang lelaki yang juga mengenakan seragam yang sama. Dia memerankan pawang kuda. Di tangannya ada cambuk.

Kembali, satu per satu mempersembahkan “kalinda’da’”, kali ini kepada “kuda” (lelaki yang di tengah). Salah seorang “pakkalinda’da’” juga mempersembahkan syairnya kepada penonton “Oo sayang” terlontar di setiap “kalinda’da’nya”. Ada yang kaget, ada yang tersenyum-senyum mendapat persembahan mendadak itu.

Setelah itu, mereka duduk melingkar untuk kemudian berbaring melentang. Perlahan tubuh bagian atas diangkat sambil mengucapkan “Lailahaillallah”. Suasana berubah menjadi mencekam.

Di atas adalah gambaran dari penampilan seniman Mandar, yang diwakili Komunitas Sure’ Bolong dan Teater Flamboyant, di acara Sastra Kepulauan dan Kampung Budaya VII, Desa Pancana, Kabupaten Barru, 16 Mei 2009. Mereka memainkan teater berjudul “Bisikan Ombak”.

Dalam sinopsis yang dibagikan kepada penonton, plus golla kambu, terdapat syair: Ada suara tak berbentuk // Ada bunyi tak berirama // Ada deburan tak kunjung tepi // Ada ombak tak berbisik // Ada laut hempasan amarah // Dari isi perut // selalu dijamah // Ada laut hempaskan duka // Meski suka selalu datang // Biarkan rebana dan kalinda’da // Biarkan kuda pattu’du dan passapu // Menyapa ombak tak bersuara (oleh: Ishaq Jenggot).

Lima lelaki diperankan Ishaq Jenggot, Dalif Palipoi, Rifai Husdar, Rahman Badaikata Ba’aziyasah, dan Kapucino. Pawang oleh Abed Mubarak, dukun yang mengawali ritual oleh Attank Lacca’ Lino dan Abu Madyan. Persiapan properti dan dokumentasi oleh Ical Madyan, Ical Tulumelo, dan Kadri.

Permainan sama namun lokasi yang berbeda dilaksankan keesokan harinya, di muara Sungai Pancana. Kali ini disaksikan ratusan pasang mata peserta kegiatan dan beberapa seniman Sulawesi Selatan, lebih menggetarkan, dan dramatis. Selesai menyapa “penjaga” sungai dengan “kalinda’da’”, mereka melompat ke sungai. Lima lelaki kemudian melakukan gerakan memanggil penghuni air, yang juga permainan di sungai oleh anak-anak Mandar. Tak lama setelah itu, gerakan “ma’macca’” kembali dipertontokan. Penonton diam terkesima. Tiba di darat, dikelilingi penonton yang penasaran, mereka mengenakan sarung sutra “sure’ salaka”. Gerakan “saeyyang pattu’du” dan permainan rebana dilakukan. Menarik, karena tubuh basah kuyup. Di beberapa tempat di tubuh terdapat lumpur.

Apa yang ditampilkan Komunitas Sure’ Bolong dan Teater Flamboyan laksana sihir, banyak yang terkesima. Dengan cerdas mereka mengkolaborasi beberapa puncak kesenian Mandar dalam satu permainan teater, yaitu: rebana, pencak silat, “saeyyang pattu’du”, “kalinda’da’”, dan ritus-ritus mistik.

Banyak penonton yang beranggapan bahwa apa yang diperlihatkan putra-putra Mandar bukanlah permainan semata, melainkan sebuah praktek mistik. Saat mereka melafazkan “barzanji” dan Lailahaillallah, mereka terpana. Dan ketika para pemain menyapa sungai di akhir permainan, tampak seekor ikan besar melompat ke atas permukaan. Ada yang beranggapan sang ikan mengucapkan terima kasih kepada pemain. Ya, wajar saja, sebab dalam beberapa gerakan, putra Mandar melakukan ritus pemanggilan penghuni air.

Di sisi lain, sebagaimana yang saya saksikan sebelum para pemain menuju tempat penampilan, terlebih dahulu mereka bershalawat dan berdo’a. Artinya, mereka tak semata-mata bermain teater dan menghibur penonton, tapi mereka juga menjadikan karya dan karsa seni mereka sebagai ibadah. Inilah yang membedakan roh penampilan antara seniman dari Mandar dengan utusan lembaga/daerah lain. Suasana mistis selalu tercermin ketika seniman Mandar yang bermain, itu anggapan beberapa seniman Makassar. Malah penduduk di Desa Pancana menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh putra-putra Mandar dapat mendatangkan kembali ikan yang tujuh tahun terakhir ini tak banyak terlihat di muara Sungai Pancana. Wallahualam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>