Puisi Mandar Mittokke Boi

Tokek dalam bahasa Mandar disebut “tokke”, hanya beda letak huruf “k”. Binatang ini salah satu binatang paling terkenal yang habitatnya di tempat tinggal manusia (rumah), selain nyamuk (“anamoq”), tikus (“balao”), dan cicak (“sassaq”). Cicak masih berkerabat dengan tokek, sama-sama binatang reptil. Belakangan, pamor tokek lagi menanjak, harganya bisa sampai jutaan. Sedang cicak tak ada yang spesial selain sebagi predator nyamuk.

Sepengetahuan saya, satu-satunya binatang yang orang Mandar percayai bisa meramal adalah tokek. Bisa dipastikan, saat ini, bila tokek bertokek, maka akan ada yang (mungkin diam-diam dalam hati) mengikuti bunyi tokek tersebut … “urangi”, tokkeee, “ndiangi”, tokkeee, “urangi”, … dst. “Urangi” berarti (akan) hujan, “ndiangi” berarti tidak (hujan).

Jadi misalnya tak ada bunyi “tokkeee” lagi setelah kata “urangi” maka akan hujan. Demikian sebaliknya, tidak akan hujan bila kata terakhirnya “ndiangi”. Apa benar atau tidak, entahlah.

Bukan hanya itu, kebiasaan tokek yang “berteriak” (?) di balik lemari atau di balik tiang rumah itu terbawa ke dalam pemberian gelar. Misalnya “Mittokke boi I Kaco”. Misalnya dulu si Kaco ini sering banyak bicara. Beberapa lama kemudian, dia lebih banyak diam. Saat dia kembali banyak bicara, maka dia bisa dikatakan “Mittokke boi”. Atau kalau ada yang tiba-tiba berteriak atau bicara pada sebuah forum, dia bisa disebut “mittokke”.

Nah, salah seorang seniman besar Mandar, yang generasi sekarang mungkin tak mengenalnya, menulis sebuah puisi berjudul “Tokke”. Sejak tahun 2008, di beberapa even kesenian, puisi “Tokke” dibacakan. Orang Mandar yang mendengarnya akan terpingkal-pingkal mendengarnya. Bukan apa-apa, isinya jenaka, pembaca puisinya apalagi.

Sebab ada puisi berjudul “Tokke” dan selama ini geliat seni sastra, khususnya pembacaan puisi Mandar, sedang mati suri (terakhir saya ikut apresiasi buku puisi “Di Tengah Padang Ilalang” karya Suradi Yasil, diadakan oleh Teater Flamboyant pada tahun 80-an), maka kegiatan Apresiasi Puisi Mandar karya Bakri Latief diberi tema “Mittokke Boi Puisi Mandar”.

Pak Tino Sidin-nya Sulsel

Bakri Latief namanya. Akrab dipanggil Papa’ Dita, seorang seniman Mandar yang masih berkarya hingga saat ini. Dia lahir di Tinambung, kawasan Calo-calo, pada 1949. Menyelesaikan pendidikan SR pada 1962 di Makassar, SMP 1965 di Makassar, SMEA Tinambung pada 1968, PGSLP Jurusan Gambar pada 1969 di Makassar, dan S1 Jurusan Seni Rupa di IKIP Ujung Pandang pada 1986.

Selesai menuntut ilmu di Makassar, dia kembali ke Mandar untuk kemudian mengabdi sebagai guru honor di PGA Tinambung (MTsN sekarang) pada 1969 sampai 1971. Pada waktu yang bersamaan, beliau juga aktif di bidang teater bersama pekerja seni di Tinambung waktu itu, misalnya Ahmad Patingari dan kawan-kawan.

Pada tahun 1986, Bakri Latief terangkat menjadi PNS di Museum Negeri Lagaligo Sulawesi Selatan, yang berkantor di Benteng Rotterdam, dekat Pantai Losari. Selain sebagai abdi negara, dia juga aktif mengisi acara “Mari Menggambar” dan “Ayo Berkarya” di TVRI Ujung Pandang, dari 1987 hingga 1993. Gara-gara dia berperan sebagai pembawa acara melukis tersebut, dia mendapat gelar “Pak Tino Sidin-nya Sulsel”. Kebetulan atau tidak, Bakri Latief dalam kesehariannya juga mengenakan topi khas Pak Tino Sidin dan Putu Wijaya (seniman teater).

Waktu saya masih SD, saya pernah ikut acara tersebut. Bagi saya pribadi, itu pengalaman paling berharga, sebab itulah pertama kali saya masuk studio televisi dan pertama kali di-shooting lalu disiarkan secara langsung. Kala itu, hal demikian sangat luar biasa, sebab siaran televisi yang ada hanya satu, TVRI saja. Apalagi bagi seorang anak kecil seperti saya.

Masuk di millenium kedua, Bakri Latief juga diminta membagi pengetahuannya, yaitu mengajar di PGTKI-PGSD STAI DDI Polewali, PGTKI-PGSD Universitas Muhammadiyah, dan Pesantren Ummul Mukminin Aisyiah Makassar. Berlangsung dari 2001 hingga 2008.

Sejak pensiun pada tahun 2005, selain melukis, Bakri Latief mengisi waktu luang dengan menulis puisi berbahasa Mandar, menulis buku yang berisi ribuan nama-nama dalam bahasa Mandar. Karyanya ini sangat unik dan penting, sebab merangkum rangkaian kata-kata yang bisa menjadi nama anak-anak di Mandar. Mudah-mudahan ada yang tergerak hatinya untuk membantu menerbitkan naskahnya tersebut.

Puisi-puisi Mandar-nya beragam tema, ada tema jenaka, kritik sosial, tradisi, lingkungan, keagamaan, dan pendidikan. Beberapa puisinya antara lain adalah “Guru, So’naimo Lao” (menggambarkan ironi cita-cita kebanyakan orang Mandar yang ingin menjadi guru), “Pu’ayi” (betapa gelar haji menjadi begitu penting dalam meningkatkan status sosial seseorang di masyarakat), “Mammakko” (renungan, sebuah zikir), “Pa’issangang Posasiq” (tentang kebudayaan maritim di Mandar), “Kannai Tinambung” (tentang kota kecil Tinambung yang begitu-begitu saja), “Teluk Mandar” (tentang laut Mandar), dan lain-lain.

Sosok Bakri Latief sangat khas, dia pelawak yang berwawasan luas. Langka sosok demikian. Memang ada pelawak, tapi hanya melucu vulgar saja, klise, tak ada pesan yang disampaikan. Saya mengenalnya sejak saya masih kanak-kanak, tapi mendengarnya membacakan puisi, pertama kali pada tahun 2007, ketika majalah Teluk Mandar kembali diluncurkan (pada akhir tahun 60-an, Bakri Latief bersama H. Murad, Suradi Yasmar, Muluk Yasil, Nurdin Hamma, dll. menerbitkan majalah yang pertama kali terbit di Mandar, yaitu Teluk Mandar).

Hal itu kembali berlanjut di beberapa even, misalnya Festival Rebana 2008 di Majene dan ada acara diskusi di rumah. Tapi itu semua terjadi spontanitas. Kebetulan Bakri Latief hadir, jadi beliau diminta oleh panitia untuk ikut mengisi acara.

Menyadari isi puisinya sarat makna (selain ada yang ketawa, ada juga sampai nangis-nangis), saya dan beberapa teman merencanakan sebuah kegiatan yang khusus memberi ruang ke Bakri Latief membacakan puisinya. Hal itu terendap sekitar tiga tahun untuk kemudian muncul kembali Desember 2010 lalu.

Sebelum Pai dan Dalip pergi ke Banten untuk pentas, mereka diajak diskusi oleh Suradi Yasil, budayawan Mandar yang tinggal di Makassar, untuk memantapkan rencana apresiasi puisi Mandar karya Bakri Latief. Pai dkk menyanggupi, tapi setelah dari Banten.

Singkat cerita, rencana apresiasi puisi ditetapkan pada 12 Januari 2011, jam 9 pagi di Gedung MITA Tinambung, setalah liburan sekolah. Ya, sebab yang diharapkan banyak hadir di acara apresiasi adalah guru-guru sekolah, khususnya guru Bahasa Indonesia.

Adapun pelaksana acara awalnya diharapkan atas nama Forum Sipakaraya, tapi ketika rapat pemantapan tak dihadiri oleh semua unsur forum tersebut, untuk menghindari kesan sepihak, maka acara dilaksanakan atas nama Tim Mandar Kreatif 2011. Tim ini bukan nama sebuah organisasi, tapi sebuah misi yang dimotori Studio Teluk Mandar, Komunitas Seni Tradisi Assamalewuang, Komunitas Indie Tia, dan KNPI Tinambung (yang oleh ketua terpilih, S. Wildan Baso, misinya memasukkan tema “Mandar Kreatif 2011” sebagai salah satu program kerja) yang mengharapkan kegiatan generasi Mandar, khususnya di Tinambung, berisi hal-hal kreatif dan rutin berlangsung setiap bulan.

Untuk awal triwulan ini sudah ada tiga rencana program kerja: Apresiasi Puisi Mandar (Januari), Bedah Buku Kamus Besar Mandar – Indonesia karya Idham Khalid Bodi (Februari) dan diskusi video klip album “Keajaiban Cinta” kerjasama Anunita Band dan Studio Teluk Mandar, dan Pementasan Monolog “Kucing” karya Butet Kertaredjasa (Maret – April).

Apresiasi Puisi Mandar karya Bakri Latief didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten Polewali Mandar. Oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Polman dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Polman, yakni bapak Drs. H. Arifuddin Toppo, M. Pd. dan Drs. Darwin Badaruddin.

Selain guru atau para pendidik, acara juga dihadiri siswa, mahasiswa, pemerhati budaya, kalangan pendidik, pejabat pemerintah, dan masyarakat umum se-Sulawesi Barat. Acara juga akan dihadiri oleh tokoh budaya Mandar yang tersisa saat ini, yaitu Suradi Yasil, penulis Ensiklopedi Sejarah, Tokoh, dan Kebudayaan Mandar. Beliau akan membedah puisi-puisi Mandar karya Bakri Latief untuk kemudian mendiskusikannya bersama peserta lain.

Terakhir, tujuan acara adalah memberi ruang berekspresi bagi seniman-seniman Mandar, menjadikan sastra Mandar sebagai salah satu kajian dalam pendidikan sastra bagi pelajar di Sulawesi Barat, melestarikan seni sastra Mandar, dan melestarikan bahasa Mandar dalam bentuk puisi. Kegiatan ini bagai pelepas dahaga di tengah keringnya even-even apresiasi sastra puisi di Mandar, khususnya di Tinambung, yang melibatkan para pendidik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>