Nuh, Nuhiyah, dan Pendakwah di Pambusuang

Salah satu lembaga pendidikan tertua di Mandar adalah Pesantren Nuhiyah. Pesantren ini terletak di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Desa Pambusuang sendiri memiliki tradisi sebagai pusat dakwah Islam. Beberapa ulama dan cendekiawan besar Mandar berasal dari Pambusuang.

Sebutlah Imam Lapeo, Annangguru Shaleh, belakangan, Baharuddin Lopa. Yang paling mengesankan, sepertinya desa atau kampung di Mandar yang paling banyak melahirkan professor adalah Pambusuang, yakni Prof. Basri Hasanuddin, Prof. Mochtar Husain, Prof. Ahmad Sewang, dan beberapa cendekiawan lain.

Ulama dan cendekiawan di atas termasuk belakangan. Masyarakat Mandar belum tahu banyak tentang tokoh atau ulama yang melahirkan keulamaan Imam Lapeo dan yang lainnya. Masyarakat belum tahu banyak, mengapa sampai bisa Pambusuang melahirkan lebih banyak ulama dan cendekiawan. Itu tak lepas dari peran lembaga pendidikan Nuhiyah.

Dalam rangka haul salah seorang tokoh utama dakwah Islam di Pambusuang, yang dilaksanakan pada Ahad, 8 Mei 2011, artikel “Mengenal Pesantren Nuhiyah” karya H. Mochtar Husain (belum professor waktu itu) yang dimuat Pedoman Rakyat pada 1995 saya sadur dan menambahi beberapa informasi terbaru serta pendapat lain yang tidak sependapat dengan tulisan Prof. Mochtar Husain.

Nuhiyah

Nuhiyah berasal dari kata “Nuh”, yaitu nama pendakwah Islam di Pambusuang. Nama lengkapnya Haji Muhammad Nuh yang kemudian diberi gelar Annangguru Kayyang Puayi Toa. Kira-kira artinya “Sang guru besar, haji tua”. Dia kadhi (perangkat kerajaan yang mengurusi agama atau hukum Islam) pertama di Pambusuang, tepatnya tahun 1858.

Sedang menurut S. Jafar Thaha, nama asli Puayi Toa adalah Abdullah. Demikian juga tentang kadhi, tidak sependapat. Menurutnya, Pambusuang tak mengenal istilah kadhi.

H. Muhammad Nuh putra dari Abdul Mannan (meski ada kemiripan nama, nama ini tidak identik dengan Tosalamaq di Salabose). H. Muhammad Nuh juga dinasabkan sebagai keturunan Syekh Al Adiy (1755) atau Tosalamaq Annangguru. Memang, tapi pendapat ini agak lemah.

Syekh Al Adiy digelari Annangguru Ga’de. Bukan karena bermukim di Ga’de (nama tempat di muara Sungai Mandar) tapi itu berasal dari gelarnya di Jawa, seorang guru “gedhe”, yang artinya hampir sama dengan “kayyang” dalam bahasa Mandar. Ada pendapat mengatakan makamnya terletak di Lambanang, tapi itu belum terbukti secara ilmiah. Penduduk setempat hanya mengatakan bahwa makam itu makan “tosalamaq”.

Desa Lambanang terletak di Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Beberapa puluh meter di atas permukaan laut, tepatnya di balik bukit “Buttu Lambanang”, yaitu perbukitan di utara Pambusuang. Arah masuk jalannya terdapat di Desa Galung Tulu ke arah kanan bila datang dari Polewali (dari kota Polewali kira-kira 40 km).

Menurut salah seorang ulama dari Mekah, Syekh Abu Syahin (berdasar surat yang datang dari Mekkah bertarikh 1 Muharram 1402 H), Annangguru Ga’de ini silsilahnya berasal dari salah satu Wali Songo, yaitu Maulana Malik Ibrahim. Tapi informasi ini masih lemah, belum ada catatan ilmiah yang saya temukan menuliskan hal itu, kecuali tulisan/artikel Prof. Muchtar Husain lebih satu dekade lalu.

Dalam dakwahnya, Annangguru Kayyang mendirikan pengajian “kittaq” (kitab) di Pambusuang. Dalam dakwahnya dia dibantu putra-putrinya, yakni H. Lolo, H. Abdul Latief, H. Bukhari, H. Abdul Salah, H. Abdul Mu’thy, H. M. Ali, H. Abdul Fattah, Sitti Afa, Sitti Aminah, dan Sitti Imsah.

Yang dituliskan di atas adalah putra-putri Annangguru Kayyang dari salah satu isterinya. Dalam kehidupannya, Annangguru Kayyang menikah beberapa kali dan menghasilkan beberapa keturunan.

Catatan tentang putra-putri Annangguru Kayyang di atas, seperti yang dituliskan Prof. Mochtar Husain di harian Pedoman Rakyat, berbeda pendapat dengan beberapa informan, khususnya H. Lolo.

“Lolo” adalah nama alias dari H. Nuh. Dengan kata lain, oleh Prof. Mochtar Husain menganggap H. Nuh (H. Lolo) adalah H. Nuh (putra dari dirinya sendiri). Pendapat lain mengatakan, sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, bahwa nama Puayi Toa adalah Abdullah, bukan H. Nuh. Jadi, yang betul adalah Annangguru Kayyang adalah H. Nuh (atau H. Muhammad Nuh) atau H. Lolo. Adapun bapaknya bernama Abdullah dengan gelar Annangguru Toa (atau Puayi Toa). Untuk memastikan akan hal ini, saya akan mengkonfirmasi lagi ke beberapa pihak terkait.

Lahirnya pesantren

Awalnya belum dinamakan pesantren, masih disebut “pengajiang kittaq”. Bentuk “pengajian kittaq” masih bisa ditemukan berlangsung di Pambusuang, baik di beberapa rumah annangguru maupun malam-malam tertentu di Masjid At Taqwa Pambusuang. Bisa dikatakan, tradisi keilmuwan mengkaji isi buku yang berasal dari tradisi ratusan tahun hanya berlangsung di Pambusuang. Ya, terlepas dari hanya mengkaji buku-buku agama yang aksaranya, aksara arab gundul (makanya biasa disebut juga “kittaq gondol” atau “kittaq kuning” sebab kertasnya kebanyakan kuning), kajian buku yang telah menjadi tradisi hanya ada di Pambusuang.

Ketika pengajian kitab dipimpin oleh salah seorang putranya, yaitu K. H. Abdul Fattah bersama keponakannya K. H. Syahabuddin (putra H. Bukhari) pada tahun 1934, berlangsung perang melawan Belanda. Keduanya, bersama Daenna Ma’ata, Kepala Desa Pambusuang yang juga murid K. H. Abdul Fattah, melakukan perlawan terhadap kesewenang-wenangan Belanda, saat berlangsung pembuatan jalan poros di Polewali Mamasa yang tidak memberikan gaji kepada para pekerjanya.

Bila Daenna Ma’ata mendatangi langsung kantor “controlleur” Belanda di Polewali, K. H. Abdul Fattah bersama murid-muridnya melakukan penghadangan atas patroli Belanda di Pambusuang. Dampaknya, K. H. Abdul Fattah dan K. H. Sahabuddin dijebloskan ke penjara dan pengajian kitab dilarang.

Kepemimpinan pengajian kitab di masa keduanya ditahan Belanda diambil alih oleh K. H. Puang Sayyeq Hasan bin Sahil, salah seorang cucu Annangguru Kaeyyang. Agar pengajian terlepas dari identik melawan Belanda, pengajian diberi nama Madrasah Arabiah Islamiah (MAI), yang tetap menerapkan sistem halaqah di serambi masjid. Adapun murid-murid pemula, setingkat ibtidaiyah, pengajarannya berlangsung di rumah imam, meniru sistem yang berlaku di Arab Saudi. Sistem MAI berhenti di zaman penjajahan Jepang di awal tahun 1940-an.

Sewaktu kemerdekaan diproklamirkan, salah seorang cucu Annangguru Kaeyyang datang dari Pulau Jawa. Namanya H. Ahmad Alwi. Dia menjadi imam untuk kemudian mengaktifkan kembali MAI. Nama yang berkesan ke-arab-araban dihilangkan, menjadi Madrasah Diniyah Islamiah. Kembali pendidikan ini terhambat perkembangannya di zaman DI/TII.

Perubahan kembali terjadi di pada tahun 1968. Salah seorang cucu Annangguru Kaeyyang yang bermukim di Makassar, yakni H. Mochtar Husain, BA., menjadikan MDI sebagai sebuah yayasan dan memiliki badan hukum, yaitu Yayasan Pesantren Nuhiyah dengan akta No. 52 1968.

Pada tahun 1981, atas dukungan Prof. DR. Umar Shihab, Yayasan Pesantren Nuhiyah mendapat bantuan dari Arab Saudi guna pembangunan gedung sekolah. Gedung dibangun di tanah wakaf keluarga H. Lopa (ayah Prof. DR. Baharuddin Lopa).

Pada awal pembentukan yayasan, Dewan Pengawasan/Pembina Yayasan Pesantren Nuhiyah adalah H. Mochtar Husain BA (Ketua), KH. S. Alwi al-Ahdal, KH. S. Hasan bin Sahil, Drs. Baharuddin Lopa, Drs. Abdul Muis Badulu, Ir. Haruna Raseng, Mayor S. Mengga, H. P. Zainuddin, dan H. Ahmad Alwy.

Adapun pengurus hariannya ialah H. Muhammad Abdul Mu’thy, H. S. Taha Al Mahdaly, Abdul Rahman Tahir, Mursyid Suyuti, Syaukaddin Gani, H. Tanda Syaid, Abdul Hamid Tahir, H. Abdul Bar Alwy, H. Zubaer Jauhari, Ismail Abdul Hafid, dan Yasin Abdul Kadir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>